Maduratani.com – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep terus melakukan manuver cerdas dalam mempercepat swasembada pangan. Pada Rabu (21/01/2026), DKPP memantau langsung keberhasilan inovasi teknologi irigasi springkel di lahan tadah hujan milik kelompok tani Desa Lembung Timur, Kecamatan Lenteng, Sumenep.
Pantauan di lokasi menunjukkan hamparan padi seluas dua hektar tumbuh hijau subur. Pemandangan ini tergolong luar biasa, mengingat lahan tersebut merupakan lahan tegalan/tadah hujan yang biasanya hanya bisa ditanami jagung saat musim kemarau atau air terbatas.
Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, atau yang akrab disapa Pak Inung, menegaskan bahwa penggunaan teknologi irigasi springkel (penyiraman bertekanan) adalah kunci transformasi ini. Dengan sistem ini, ketergantungan pada tenaga manusia dan curah hujan dapat diminimalisir.
“Melalui inovasi teknologi pertanian dengan irigasi springkel ini, petani kita tidak lagi mengandalkan tenaga manusia secara manual untuk menyiram. Ini adalah efisiensi sekaligus peningkatan produktivitas,” ujar Pak Inung di sela-sela kunjungannya ke ladang warga.
Berdasarkan referensi teknis pertanian, irigasi springkel (sprinkler) adalah metode pemberian air yang menyerupai curah hujan alami. Air dialirkan melalui pipa-pipa bertekanan dan dipancarkan melalui nosel (sprinkler head) yang berputar.
Beberapa keunggulan irigasi springkel untuk lahan di Sumenep antara lain:
-
Efisiensi Air Tinggi: Air didistribusikan secara merata sehingga mencegah pemborosan air di lahan yang cepat meresap (porous).
-
Hemat Tenaga Kerja: Sistem dapat diatur secara otomatis atau semi-otomatis, mengurangi beban kerja petani secara signifikan.
-
Sesuai untuk Topografi Bergelombang: Sangat cocok untuk lahan tegalan di Madura yang tidak rata, karena tidak memerlukan perataan tanah seperti irigasi genangan tradisional.
-
Mikroklimat Terjaga: Pancaran air membantu menjaga kelembapan udara di sekitar tanaman, yang sangat baik untuk pertumbuhan padi di area panas.
Keberhasilan di Desa Lembung Timur ini akan dijadikan pilot project untuk lahan-lahan tadah hujan lainnya di Sumenep. Pak Inung menargetkan agar lahan tegalan tidak lagi “menganggur” atau hanya terpaku pada satu komoditas saja.
“Target DKPP kedepannya adalah menggenjot inovasi. Jadi, lahan-lahan tadah hujan tetap produktif untuk pertanian padi. Inilah wujud nyata untuk menuju capaian swasembada pangan,” pungkas pejabat yang membawa DKPP meraih BBIB Awards 2025 tersebut.
Selain inovasi lahan, DKPP Sumenep tetap konsisten menjaga populasi Sapi Madura sebagai penguatan komoditas lokal dan pengendalian penyakit hewan demi kesejahteraan peternak secara menyeluruh. [Ferry Arbania]




.gif)






