Maduratani.com– Di bawah langit Desa Jukong, Kecamatan Labang, Kamis siang itu (26/12/2024), sebuah harapan baru ditiupkan ke tanah Madura. Bukan oleh seorang pejabat berpangkat, melainkan oleh seorang pria dengan sorot mata teduh namun penuh tekad. Ia adalah Yuanas (43), pria keturunan Madura yang selama bertahun-tahun telah membuktikan bahwa “darah tani” nenek moyangnya mampu menaklukkan teknologi canggih di Negeri Matahari Terbit.
Cak Annas, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang kini menjadi buah bibir di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan Ikatan Keluarga Madura (IKAMA). Sukses mengelola 35 hektar sawah di Prefecture Ibaraki, Kota Mito, Jepang, tak membuat Cak Annas lupa akan akar sejarahnya. Baginya, kesuksesan di Jepang hanyalah bab pembuka dari misi besarnya: Membangunkan raksasa pertanian yang sedang tidur di Pulau Madura.
Cinta yang Memanggil Pulang
Kehadiran Cak Annas di Wisata IKAMA bukan sekadar untuk berbagi teori. Ia datang membawa janji pengabdian. Bersama istrinya, Ishikawa Chikako (42), Cak Annas telah merasakan bagaimana teknologi mampu mengangkat derajat seorang petani. Di Jepang, mereka memanen 5,5 hingga 6 ton beras per hektar hanya dengan “sentuhan jari”.
“Saya bersedia membantu langsung, membawa sistem pertanian baru yang lebih modern. Saya ingin gairah petani Madura tumbuh kembali, agar Madura kelak menjadi tulang punggung padi nasional,” ungkapnya dengan nada penuh empati.
Ia menceritakan betapa mudahnya petani di Jepang mengelola air. Bayangkan sebuah dunia di mana petani tak perlu memikul cangkul di tengah malam untuk mencari air; mereka cukup membuka kran, dan air mengalir melalui sistem drainase dan pompanisasi yang presisi. Saat banjir datang? Hanya butuh tiga hari bagi mereka untuk memulihkan keadaan.
Menepis Keraguan dengan Bukti
Cak Annas menyadari bahwa mengajak petani beralih dari cara konvensional ke teknologi modern tidaklah mudah. Namun, ia tidak menyerah pada keraguan. Ia berencana membangun sebuah pilot project di Madura sebagai bukti nyata.
“Kita harus mengakui masih banyak yang belum siap menerima kemajuan teknologi. Namun, melalui proyek percontohan ini, saya yakin manfaatnya akan berbicara lebih keras daripada kata-kata,” jelas pria yang tekadnya selaras dengan visi swasembada pangan Presiden Prabowo Subianto ini.
Kebanggaan dan Keprihatinan IKAMA
Ketua IKAMA, H. Mohammad Rawi, tak mampu menyembunyikan rasa haru dan bangganya. Informasi tentang sosok Cak Annas ia peroleh langsung dari KH Mohammad Cholil Nafis (Wakil Ketua LBM PBNU). Bagi H. Rawi, Cak Annas adalah jawaban atas keprihatinannya melihat luasnya lahan tidur di Madura yang belum tergarap maksimal.
“Saya bangga ada orang Madura sukses di Jepang dengan teknologi canggih. Kehadiran Cak Annas diharapkan bisa menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan generasi muda kita untuk kembali ke sawah,” tutur H. Rawi dengan mata berkaca-kaca.
Masa Depan: Kran Air di Sawah Madura
Kisah Cak Annas adalah pengingat bahwa pertanian bukan tentang lumpur dan kemiskinan, melainkan tentang teknologi dan kemakmuran. Ia bermimpi suatu saat nanti, petani di Bangkalan atau Sumenep bisa pulang ke rumah lebih awal karena pekerjaan mereka telah dibantu oleh mesin-mesin cerdas.
“Semoga ini bisa mengangkat derajat ekonomi petani Indonesia,” pungkasnya.
Pulangnya Cak Annas adalah sebuah “Nafas Baru”. Jika di Jepang ia bisa sukses, maka dengan dukungan teknologi dan semangat gotong royong, tidak ada alasan bagi Madura untuk tidak menjadi lumbung pangan dunia.




.gif)



