Maduratani.com – Rendahnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian menjadi tantangan serius bagi masa depan kedaulatan pangan di Madura. Stigma bahwa bertani adalah pekerjaan berat, kotor, dan berpenghasilan rendah ditengarai menjadi penyebab utama para pemuda dan orang tua enggan melirik sektor ini sebagai masa depan yang menjanjikan.
Menyikapi fenomena tersebut, muncul sebuah gagasan untuk melakukan re-branding identitas petani menjadi “Pengusaha Tani”. Perubahan istilah ini dinilai penting untuk mengubah psikologis dan cara pandang masyarakat terhadap profesi di sektor agraris.
Melawan Sugesti “Nasib Kelam”
Dalam sebuah forum diskusi pertanian di Madura, terungkap fakta sosiologis yang memprihatinkan. Ketika diajukan pertanyaan, “Apakah kamu ingin menjadi petani?”, mayoritas anak muda menggelengkan kepala. Jawaban serupa muncul dari para orang tua yang tidak ingin anak-anak mereka meneruskan jejak di sawah.
“Hal ini menunjukkan adanya krisis kepercayaan terhadap masa depan profesi petani. Dalam kurun waktu yang lama, sektor ini dipandang tidak keren dan berpenghasilan rendah,” ujar Isdiantoni, SP., MP. ,Dekan Fakultas Pertanian Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep kepada Maduratani.com, Senin 29 Desember 2025.
dalam narasi yang berkembang di kalangan praktisi pertanian Sumenep.
Padahal, secara teknis, sektor pertanian saat ini telah bertransformasi. Dengan konsep smart farming yang berkelanjutan, seorang petani sebenarnya memiliki potensi penghasilan yang sangat menggiurkan, yakni berkisar antara Rp10 juta hingga Rp20 juta per bulan. Namun, banyak anak muda yang masih terkunci oleh sugesti kehidupan kelam petani tradisional yang identik dengan keterpurukan nasib.
Pertanian Sebagai Entitas Bisnis
Secara alamiah, pertanian adalah sektor yang paling menjanjikan karena kemampuan produksinya yang berlipat ganda dari sebutir benih. Kendala utamanya selama ini bukanlah pada potensi alamnya, melainkan pada aspek manajemen usaha tani.
Hingga saat ini, kegiatan bertani masih dipandang sebagai aktivitas bertahan hidup, bukan sebagai sebuah usaha atau entitas bisnis yang profesional. Akibatnya, petani seringkali kekurangan bekal dan kemampuan dalam mengelola manajemen produksi hingga pemasaran.
Branding Baru: Pengusaha Tani
Gerakan menyuarakan sebutan “Pengusaha Tani” diharapkan mampu menjadi titik balik bagi regenerasi petani di Madura. Dengan menyebut diri sebagai pengusaha, para pelaku tani dituntut untuk memiliki mentalitas manajerial, berorientasi pada keuntungan, dan terbuka terhadap kemajuan teknologi.
“Kita perlu membiasakan diri menyebut mereka sebagai Pengusaha Tani. Tujuannya agar anak muda bisa membayangkan kehidupan seorang pengusaha yang sukses, sehingga mereka berani bermimpi dan mewujudkan diri menjadi bagian dari kemajuan ekonomi agribisnis,” pungkasnya.
Melalui identitas baru ini, diharapkan profesi petani tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan menjadi pilihan karier yang prestisius dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Madura secara signifikan.




.gif)






