Maduratani.com– Hamparan sawah di Desa Daleman, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, yang seharusnya mulai merunduk hijau kini justru diselimuti warna kuning kecokelatan yang prematur. Fenomena ini memicu keresahan mendalam di kalangan petani setempat yang khawatir modal besar yang telah mereka tanam akan berakhir dengan kerugian total.
Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan tersebut, Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kedungdung memberikan atensi serius terhadap laporan warga mengenai penurunan kualitas tanaman padi mereka.
Bakteri dan Jamur: Musuh di Balik Cuaca Ekstrem
Kepala BPP Kedungdung, Seto, membenarkan bahwa kondisi padi di Desa Daleman menunjukkan gejala abnormal. Menurut penjelasannya, warna kuning dan kering pada daun padi yang muncul sebelum masa panen umumnya dipicu oleh serangan penyakit tanaman yang spesifik. Ia mengidentifikasi serangan bakteri atau jamur sebagai penyebab utama yang menghambat proses pertumbuhan padi secara alami.
Penyakit ini bekerja dengan cara merusak jaringan daun, sehingga proses fotosintesis terganggu. Akibatnya, tanaman tidak mampu menyalurkan nutrisi secara maksimal ke bulir padi. Seto menyebutkan bahwa perubahan cuaca yang tidak menentu, seperti jarang turun hujan namun disertai petir di malam hari, menciptakan kelembapan tertentu yang mempercepat perkembangbiakan patogen tersebut.
Urgensi Penyemprotan dan Langkah Mitigasi
Dalam tinjauannya, Seto menekankan pentingnya tindakan cepat dari para petani untuk memutus rantai penyebaran penyakit. Ia menjelaskan bahwa gejala daun yang menguning sebenarnya bisa dicegah agar tidak meluas ke petak sawah lainnya. Salah satu solusi teknis yang ia tawarkan adalah segera melakukan penyemprotan obat-obatan pertanian atau fungisida/bakterisida yang sesuai dengan anjuran penyuluh di lapangan.
Seto memperingatkan bahwa keterlambatan dalam penanganan akan berakibat fatal. Menurutnya, penyakit yang dibiarkan tanpa intervensi kimiawi atau organik yang tepat akan lebih mudah menyebar ke tanaman lain yang masih sehat. Kondisi inilah yang pada akhirnya secara langsung memangkas angka produktivitas sawah warga dan menyebabkan bulir padi menjadi hampa atau “padi hampa”.
Kekhawatiran Petani Terhadap Biaya Produksi
Di sisi lain, para petani seperti Salamah kini berada dalam posisi terjepit. Biaya operasional yang telah dikeluarkan, mulai dari pembelian benih unggul, upah tenaga kerja untuk pembersihan lahan, hingga biaya pemupukan yang terus meningkat, membuat risiko gagal panen menjadi mimpi buruk finansial.
BPP Kedungdung kini terus memantau perkembangan di lapangan dan mengimbau petani agar lebih proaktif berkonsultasi dengan petugas penyuluh lapangan (PPL) agar serangan penyakit ini tidak meluas menjadi bencana pertanian di awal tahun 2026.
Editor/Red: Ferry Arbania




.gif)






