SUMENEP – Selama puluhan tahun, petani cabai jamu di ujung timur Pulau Madura terjebak dalam siklus “tanam-panen-jual mentah”. Namun, paradigma usang itu kini mulai diruntuhkan. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep secara resmi menginisiasi transformasi besar dengan mengusung konsep Pengelolaan Hulu-Hilir Terintegrasi.
Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, menegaskan bahwa fokus pemerintah tidak lagi sekadar pada peningkatan tonase produksi di sawah, melainkan pada bagaimana menciptakan “nilai tambah” (added value) sebelum produk menyentuh pasar.
Melawan Orientasi Produksi yang Semu
Bagi Chainur Rasyid, membiarkan petani hanya fokus pada tahap produksi adalah membiarkan mereka rentan terhadap permainan harga tengkulak.
“Kami tidak ingin petani hanya berorientasi pada seberapa banyak yang dipanen. Jika hanya menjual hasil mentah, margin keuntungan mereka tipis. Melalui pengembangan hulu-hilir, kita masuk ke tahap pengolahan hasil. Di sanalah nilai ekonomi yang sebenarnya berada,” ujar Chainur dengan nada optimistis.
Strategi ini dirancang untuk menjawab keresahan petani mengenai fluktuasi harga yang seringkali merugikan saat musim panen raya tiba.
Manajemen Kolektif: Menghapus Ego Sektoral
Salah satu poin unik dari program ini adalah pendekatan Kawasan Kolektif. Pengelolaan cabai jamu tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan dalam satu ekosistem yang melibatkan:
-
Petani & Pembudidaya: Sebagai motor penggerak produksi berkualitas.
-
Kelembagaan Pendukung: Sebagai penyokong akses modal dan teknologi.
-
Sistem Pendampingan: Edukasi berkelanjutan dari DKPP agar kualitas ekspor tetap terjaga.
“Kami ingin di kawasan ini semua unsur bergerak bersama. Jika dikelola secara rapi dan sistematis, cabai jamu Sumenep akan memiliki posisi tawar (bargaining position) yang jauh lebih kuat di pasar nasional maupun internasional,” tambah Chainur.
Daya Saing Lokal: Menuju Kesejahteraan Sistematis
Langkah DKPP ini bukan sekadar janji di atas kertas. Dengan integrasi hulu-hilir, cabai jamu Sumenep diproyeksikan tidak hanya mengisi gudang-gudang jamu tradisional, tetapi masuk ke industri farmasi modern dengan standar yang lebih tinggi.
Target Utama Program:
-
Stabilitas Harga: Menghindari anjloknya harga melalui diversifikasi produk olahan.
-
Kemandirian Petani: Mengurangi ketergantungan pada rantai distribusi yang terlalu panjang.
-
Keberlanjutan (Sustainability): Menciptakan manajemen pertanian yang ramah lingkungan dan profesional.
“Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan petani yang berkelanjutan. Mereka didampingi secara sistematis dalam satu kawasan terpadu. Petani tidak boleh lagi berjalan sendiri di tengah persaingan pasar yang ketat,” pungkasnya.




.gif)






