Maduratani.com – Kabupaten Sumenep resmi mengirimkan sinyal “ancaman” positif bagi peta pangan nasional. Bukan sekadar wacana, produktivitas jagung di Desa Moncek Tengah, Kecamatan Lenteng, baru saja memecahkan rekor lokal dengan capaian 9,58 ton per hektar. Angka ini sekaligus memukul mundur rata-rata produktivitas nasional yang selama ini tertahan di angka 5-6 ton per hektar.
Hasil ubinan yang dilakukan pada Rabu (04/02/2026) ini bukan hanya prestasi di atas kertas, melainkan “karpet merah” bagi petani Madura untuk menguasai pangsa pasar ekspor global.
Sains Pertanian di Balik ‘Ledakan’ Produksi
Keberhasilan ini membuktikan bahwa petani Sumenep telah bertransformasi dari cara tradisional menuju pertanian berbasis presisi. Sinergi antara Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, Penyuluh BPPSDMP Kementan RI, dan verifikasi ketat Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi kunci suksesnya.
Metode pengubinan seluas 2,5×2,5 meter menunjukkan kerapatan dan bobot tongkol yang luar biasa. “Ini adalah hasil dari kedisiplinan petani dalam menggunakan benih hibrida unggul dan pemupukan berimbang. Sumenep kini bukan lagi penyangga, tapi pemain utama supply jagung untuk target ekspor 1 juta ton nasional,” tegas Dewo Ringgih, Katimker Penyuluh Pertanian Sumenep.
Madura: Dari Lahan Marginal ke Lumbung Devisa
Selama ini lahan tegalan sering dianggap sebagai lahan “kelas dua”. Namun, dengan luas tegalan mencapai 117.000 hektar, Sumenep membuktikan bahwa keterbatasan air bukan penghalang untuk meraup pundi-pundi rupiah.
Jika satu hektar lahan di Moncek Tengah mampu menghasilkan laba bersih sekitar Rp20,5 Juta dalam sekali musim tanam, maka potensi ekonomi yang berputar di tingkat akar rumput Sumenep bisa mencapai angka triliunan rupiah jika replikasi teknologi ini dilakukan secara masif.
| Parameter Ekonomi | Capaian Moncek Tengah | Standard Nasional |
| Hasil Ubinan | 9,58 Ton/Ha | 5,6 Ton/Ha |
| Estimasi Laba Bersih | Rp20.500.000 | Rp9.000.000 |
| Kualitas Biji | Grade A (Ekspor) | Grade B/C |
Menantang Pasar Global: Misi Tanpa Cacat
DKPP Sumenep kini tak ingin berpuas diri. Pasca-panen menjadi medan perang berikutnya. Target pasar ekspor menuntut syarat tanpa kompromi: kadar air maksimal 14% dan nol kontaminasi jamur.
Dengan pengawalan ketat pada proses pengeringan dan penyimpanan, jagung Moncek Tengah kini sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan-pelabuhan internasional. Ini adalah pesan tegas dari ujung timur Madura kepada dunia: Kami tidak hanya menanam, kami memimpin kualitas.




.gif)






