SUMENEP, Maduratani.com – Keakuratan data produksi pertanian menjadi fondasi utama dalam pengambilan kebijakan pangan nasional. Hal inilah yang mendasari langkah taktis Tim Penyuluh BPPSDMP Kementerian Pertanian RI Wilayah Kerja (Wilker) Saronggi saat menggelar ubinan komoditas kacang tanah di lahan petani, Rabu (28/01/2026).
Ketua Tim Kerja (Katimker) Penyuluh Pertanian, Dewo Ringgih, menegaskan bahwa proses pengambilan sampel ubinan tidak boleh dilakukan secara parsial. Menurutnya, kolaborasi lintas sektoral antara penyuluh lapangan dan statistikator sangat krusial.
“Ubinan dilaksanakan dengan melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS). Untuk meningkatkan akurasi dan keselarasan data, sinergitas yang baik wajib dilakukan. Ini adalah kunci agar data panen kita benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan,” tegas Dewo Ringgih kepada Redaksi Maduratani.com, Kamis (29/01/2026).
Standar Operasional BPS sebagai Acuan

Dewo menjelaskan bahwa teknis ubinan merupakan instrumen statistik yang sangat sensitif. Tanpa mengikuti Standard Operating Procedure (SOP) yang ditetapkan BPS, hasil estimasi produksi suatu komoditas bisa meleset dan berdampak pada kesalahan kebijakan distribusi pupuk maupun bantuan bibit.
“Ubinan bukan sekadar menimbang hasil panen, melainkan teknik ilmiah untuk memotret produktivitas suatu kawasan. Di Sumenep, kacang tanah tersebar luas di seluruh kecamatan dan telah menjadi komoditas unggulan kawasan yang ditetapkan Kementerian Pertanian RI karena daya adaptasinya yang luar biasa terhadap iklim Madura,” tambahnya.
Temuan Lapangan di Saronggi
Dalam aksi lapangan yang berlangsung di Dusun Langsar Laok, Desa Langsar, tim penyuluh melakukan ubinan di lahan milik Johan. Berdasarkan pantauan langsung, kegiatan yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut mencatatkan beberapa poin teknis penting:
-
Produktivitas: Hasil ubinan mencapai 1,62 kg (Gelondongan Basah) pada plot sampel berukuran 2,5m x 2,5m.
-
Pola Tanam: Petani setempat menerapkan sistem tumpang sari (kacang tanah berdampingan dengan tanaman palawija dan srikaya).
-
Aspek Manajerial: Penggunaan benih sebanyak 4 kg dengan input pupuk Urea dan Phonska masing-masing 25 kg.
Peran Strategis BPPSDMP
Sebagai bagian dari BPPSDMP (Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian), Dewo Ringgih dan timnya mengemban misi besar untuk mencetak SDM pertanian yang profesional. Melalui kegiatan ubinan yang akurat, penyuluh tidak hanya mendampingi budidaya, tetapi juga mendidik petani untuk memahami pentingnya data statistik dalam mengukur keberhasilan usaha tani.
“Kami ingin menghasilkan SDM yang mandiri dan berdaya saing. Dengan data yang sinkron antara penyuluh dan BPS, posisi tawar petani akan lebih kuat karena produktivitas mereka tercatat secara resmi dalam sistem statistik nasional,” pungkas Dewo.
Red/Editor: Ferry Arbania




.gif)






