Sosok di Balik Revolusi Pertanian Sumenep: Chainur Rasyid dan Strategi “Tiga Komoditas Satu Lahan”

oleh -90 Dilihat

 


Maduratani.com- Kabupaten Sumenep kini tengah menjadi sorotan nasional berkat keberaniannya melakukan terobosan di sektor agraria. Di bawah komando Chainur Rasyid, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep yang akrab disapa Pak Inong, wilayah ujung timur Pulau Madura ini bertransformasi menjadi laboratorium inovasi pertanian yang progresif untuk menyongsong target swasembada pangan 2026.

Visi Strategis Pak Inong: Menembus Batas Lahan Baku

Di tengah tantangan keterbatasan lahan, Chainur Rasyid muncul dengan solusi cerdas. Ia tidak hanya terpaku pada Luas Baku Sawah (LBS) yang sudah ada, tetapi berani melakukan ekspansi melalui peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT) di luar zona konvensional.

 




Langkah ini bukan sekadar mengejar angka, melainkan pengejawantahan instruksi Kementerian Pertanian (Kementan) RI secara taktis. “Kami fokus pada peningkatan luas tambah tanam, baik di dalam maupun di luar luas baku sawah,” tegas Pak Inong. Visi ini menunjukkan bahwa di tangan pemimpin yang tepat, kendala geografis dapat diubah menjadi peluang produktivitas.

Inovasi Tumpang Sari: Padi, Siwalan, dan Kelapa

Kehebatan Chainur Rasyid paling nampak pada model Tumpang Sari Multikomoditas yang digagasnya. Jika biasanya tumpang sari hanya melibatkan dua jenis tanaman pendek, Pak Inong melangkah lebih jauh dengan mengintegrasikan:

  1. Padi: Sebagai pilar utama swasembada pangan nasional.


     

  2. Siwalan: Komoditas khas yang menjadi identitas dan kekuatan lokal Sumenep.

  3. Kelapa: Tanaman jangka panjang untuk memperkuat struktur ekonomi perkebunan.

Penerapan perdana di Desa Nyabakan Barat, Kecamatan Batang-batang, membuktikan bahwa kolaborasi antara birokrasi, TNI (Koramil), Polri (Polsek), dan Gapoktan dapat berjalan harmonis di bawah supervisi DKPP.

Diplomasi Air dan Kesejahteraan Petani

Pak Inong sangat memahami bahwa kunci keberhasilan padi adalah air. Oleh karena itu, ia secara selektif memetakan wilayah potensial yang memiliki dukungan irigasi memadai sebelum menyebarkan inovasi ini ke seluruh pelosok Sumenep.

Namun, aspek yang paling menyentuh dari kepemimpinan Chainur Rasyid adalah orientasinya pada kesejahteraan petani. Ia ingin petani Sumenep tidak lagi “bertaruh” pada satu komoditas saja.

  • Diversifikasi Pendapatan: Dengan tiga komoditas dalam satu kawasan, petani memiliki cadangan penghasilan jika salah satu harga pasar sedang fluktuatif.

  • Hilirisasi: Pak Inong mendorong agar hasil siwalan dan kelapa tidak hanya dijual mentah, tapi masuk ke ranah hilirisasi untuk nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi.

Menuju Swasembada Pangan Berkelanjutan

Melalui tangan dingin Chainur Rasyid, DKPP Sumenep tidak hanya bekerja untuk hari ini, tapi sedang membangun fondasi kekuatan pangan berkelanjutan. Ia membuktikan bahwa birokrasi pertanian bisa bergerak lincah, inovatif, dan tetap berpijak pada kebutuhan riil di lapangan.

“Inovasi ini akan berdampak baik terhadap kesejahteraan petani,” pungkas Pak Inong dengan optimisme tinggi. Di bawah kepemimpinannya, Sumenep kini bukan lagi sekadar pengikut arus, melainkan pelopor masa depan pertanian Indonesia.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.