PAMEKASAN (Maduratani.com)– Kabupaten Pamekasan kembali membuktikan perannya sebagai salah satu pilar stabilitas pangan nasional. Di saat banyak sentra produksi bawang merah di Pulau Jawa membatasi penanaman akibat tingginya curah hujan, para petani di wilayah utara Pamekasan justru melakukan penanaman raya dengan sistem luar musim atau off-season.
Langkah strategis ini menjadi kunci pengaman stok bawang merah menjelang momentum hari besar keagamaan, seperti bulan suci Ramadan dan Idul Fitri.
Pusat Produksi Waru dan Batumarmar
Kecamatan Batumarmar dan Waru kini menjadi magnet budidaya bawang merah di Madura. Memanfaatkan lahan tegalan dan berlereng, para petani setempat mampu mengelola risiko musim penghujan menjadi peluang produktivitas.
Kepala Bidang Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Pamekasan, Nolo Garjito, mengungkapkan bahwa pada periode Januari hingga Februari, luas pertanaman bawang merah di Pamekasan diprediksi mencapai 1.500 hingga 2.000 hektare.
“Hingga minggu ketiga Januari, data kami menunjukkan luas tanam sudah menyentuh 800 hektare dengan umur tanaman bervariasi. Kami memproyeksikan produksi pada puncaknya nanti di bulan Maret-April mampu menyentuh 16 ribu ton,” jelas Nolo. Angka ini diharapkan mampu menjaga harga di tingkat konsumen tetap stabil.
Efisiensi Tinggi dan Benih Unggul
Keberhasilan Pamekasan sebagai kawasan off-season didorong oleh efisiensi teknis para petaninya. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sekitar 97,5% petani di Kecamatan Batumarmar telah mencapai standar efisiensi teknis yang optimal.
Ketua Gapoktan Melati Putih di Desa Lesong Laok, Bukhori, menyatakan bahwa pemilihan varietas unggul seperti Manjung dan Tajuk menjadi rahasia produktivitas yang mencapai 6-10 ton per hektare.
“Tahun ini kami memilih melewatkan tanaman jagung karena kedatangan hujan yang sedikit terlambat, agar momentum tanam bawangnya pas. Hasil panen kami nantinya dikirim ke Pasar Induk Surabaya, Jakarta, hingga merambah Kalimantan dengan rata-rata pasokan 10 ton per hari,” ungkap Bukhori.
Dukungan Pemerintah Melalui EWS
Secara terpisah, Kementerian Pertanian terus memantau pergerakan produksi di Pamekasan. Pemerintah pusat memandang Pamekasan sebagai daerah prioritas karena karakteristik agroklimatnya yang unik.
Kementan kini menerapkan instrumen Early Warning System (EWS) untuk memprediksi ketersediaan dan harga komoditas strategis seperti bawang merah dan cabai tiga bulan ke depan.
“Sesuai arahan Menteri Pertanian, fokus kami adalah memastikan produksi aman agar masyarakat tenang menghadapi puasa dan lebaran. Pamekasan dengan sistem off-season-nya sangat membantu mengamankan pasokan nasional saat sentra lain terkendala cuaca ekstrem,” pungkas perwakilan Kementan.
Selain bawang merah, sektor pertanian Pamekasan juga tetap mengandalkan komoditas tembakau sebagai tanaman pendamping yang kuat, menjadikan daerah ini sebagai lumbung agribisnis yang mandiri dan berbasis teknologi intensif.




.gif)






