MADURATANI.COM, SUMENEP – Geliat pertanian di Kabupaten Sumenep kembali menunjukkan tren positif. Kali ini, sorotan tertuju pada Desa Gunung Kembar, Kecamatan Manding, di mana Kelompok Tani (KT) Tiga Saudara berhasil membuktikan bahwa lahan tegalan tadah hujan bukan hambatan untuk meraih produktivitas tinggi.
Melalui kegiatan ubinan yang dilakukan oleh Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kecamatan Manding pada 17 November 2025, varietas jagung hibrida RK 457 menunjukkan performa yang mengesankan dengan estimasi hasil mencapai 6,816 ton per hektar.
Detail Teknis dan Hasil Ubinan
Kegiatan ubinan merupakan metode standarisasi untuk menghitung perkiraan hasil panen melalui pengambilan sampel area kecil (biasanya $2,5 \text{m} \times 2,5 \text{m}$). Berikut adalah data teknis dari lahan seluas 0,25 Ha milik KT Tiga Saudara:
-
Varietas: RK 457 (Hibrida)
-
Pola Tanam: Jarak tanam tunggal $70\text{cm} \times 20\text{cm}$
-
Tinggi Tanaman: Rata-rata 231,7 cm (Pertumbuhan vegetatif sangat optimal)
-
Populasi Sampel: 38 batang dengan 38 tongkol produktif.
-
Berat Ubinan: Berat klobot 5,840 kg dan berat tongkol 5,320 kg.
-
Kadar Air: 20,9% (Masuk kategori pipil basah yang ideal).
Mengapa Varietas RK 457 Unggul di Manding?
Berdasarkan data literatur pertanian, varietas RK 457 memang dikenal sebagai jagung hibrida yang memiliki adaptasi kuat di lahan kering (tegalan). Keunggulannya meliputi:
-
Batang Kokoh: Dengan tinggi rata-rata 231,7 cm, varietas ini memiliki perakaran yang kuat sehingga tidak mudah rebah tertiup angin kencang di lahan terbuka.
-
Efisiensi Pengisian Tongkol: Data menunjukkan jumlah batang dan tongkol yang sama (38), menandakan tingkat produktivitas tanaman mencapai 100%.
-
Toleransi Kekeringan: Sangat cocok untuk karakteristik lahan tegalan tadah hujan seperti di Desa Gunung Kembar yang sangat bergantung pada manajemen air yang efisien.
Evaluasi PPL Manding: Standar Baru bagi Petani Lain
Bapak Syarif, selaku penyuluh dari Kecamatan Manding, memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi KT Tiga Saudara. Menurutnya, keberhasilan ini tidak lepas dari kepatuhan petani dalam menerapkan jarak tanam $70\text{cm} \times 20\text{cm}$ yang memberikan ruang cukup bagi tanaman untuk menyerap nutrisi dan sinar matahari secara maksimal.
“Kegiatan ubinan ini bukan sekadar hitung-hitungan angka, tapi informasi akurat untuk membantu petani mengevaluasi kualitas hasil panen. Kami berharap kelompok tani lain di Manding bisa meniru jejak sukses KT Tiga Saudara dalam manajemen budidaya jagung,” tegas Bapak Syarif.
Tantangan dan Strategi Pasca-Panen
Dengan produktivitas 6,816 ton/Ha pipil basah, tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas saat proses pengeringan. Dengan kadar air awal 20,9%, petani disarankan melakukan penjemuran hingga mencapai kadar air 14% (standar gudang) untuk mendapatkan harga jual tertinggi di pasaran.
Keberhasilan di Desa Gunung Kembar ini diharapkan menjadi pemicu bagi desa-desa lain di Kabupaten Sumenep untuk terus berinovasi, meskipun bertani di lahan tadah hujan yang penuh tantangan. (*)
Red./Editor: Ferry Arbania




.gif)






