SUMENEP, MADURATANI.COM – Menjalankan ibadah puasa sambil mengolah lahan di bawah terik matahari Madura tentu bukan perkara mudah. Namun, bagi petani tangguh di Sumenep, Ramadan bukanlah alasan untuk membiarkan lahan menganggur.
Menjelang bulan suci tahun ini, Maduratani.com merangkum tips praktis bagi para pejuang pangan agar tetap bugar dan produktif:
1. Manajemen Waktu “Shift Subuh” Hindari bekerja di atas jam 10 pagi saat matahari mulai menyengat. Para ahli menyarankan pola kerja dimulai tepat setelah salat Subuh hingga maksimal pukul 09.30 WIB. Di jam ini, kelembapan tanah masih terjaga, dan fisik Anda masih memiliki energi penuh dari nutrisi sahur.
2. Fokus pada Pemeliharaan Ringan Gunakan waktu puasa untuk pekerjaan yang tidak membutuhkan tenaga ekstra, seperti penyulaman, pengamatan hama (monitoring), atau pengaturan irigasi. Simpan pekerjaan berat seperti pengolahan tanah manual (mencangkul) untuk dilakukan sore hari menjelang berbuka (ngabuburit produktif).
3. Nutrisi Sahur Berbasis Hasil Bumi Lokal Manfaatkan pangan lokal untuk sahur yang tahan lama. Mengonsumsi jagung rebus atau olahan singkong sangat disarankan karena mengandung karbohidrat kompleks yang melepas energi secara perlahan (slow release), sehingga Anda tidak cepat merasa lemas.
4. Sedekah Jariyah dari Setiap Tunas Ingatlah pesan yang sering disampaikan tokoh pertanian kita, Pak Inong (Chainur Rasyid), bahwa setiap keringat petani adalah ibadah, dan setiap tanaman yang tumbuh adalah sedekah bagi makhluk bumi lainnya. Semangat spiritual ini akan meringankan beban fisik saat berpuasa.
[Nadayana/Maduratani]




.gif)








