SUMENEP, MADURATANI.COM – Sektor pertanian di ujung timur Pulau Madura kembali menunjukkan taringnya. Desa Legung Barat, Kecamatan Batang-Batang, resmi memulai prosesi panen padi perdana di lahan tadah hujan. Momentum ini menjadi angin segar bagi stabilitas pangan lokal, mengingat tantangan iklim yang sering menghantui wilayah pesisir.
Data Teknis dan Dominasi Varietas Inpari 42
Kecamatan Batang-Batang memiliki potensi agraris yang signifikan dengan Luas Baku Sawah (LBS) mencapai 1.262 hektar. Panen yang berlangsung hari ini merupakan pembuka dari siklus panen raya di seluruh hamparan LBS kecamatan tersebut.
Pada lahan perdana seluas 1 hektar ini, petani setempat sukses mengembangkan varietas Inpari 42. Varietas ini dikenal memiliki keunggulan Green Super Rice (GSR), yang tahan terhadap serangan wereng coklat dan memiliki produktivitas tinggi meski ditanam di lahan dengan ketersediaan air terbatas.
Kepastian Pasar: Intervensi Bulog dalam Menyerap Gabah
Kabar menggembirakan bagi kesejahteraan petani datang dari sisi hilir. Hasil panen perdana ini langsung diserap oleh Bulog dengan harga yang kompetitif, yakni Rp6.500 per kilogram. Harga ini berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP), yang menandakan kualitas gabah dari Leggung Barat memenuhi standar premium nasional.
Analisis Otoritas: Cerdas dan Bermartabat
Kegiatan panen ini dihadiri langsung oleh jajaran fungsional pertanian, termasuk Koordinator Penyuluh Kecamatan Batang-Batang, Zasli Purwanto, PPL Wibi Kurnianto, dan Katimker Dewo Ringgih.
Zasli Purwanto, dalam kapasitasnya sebagai Koordinator Penyuluh, memberikan penegasan yang lugas mengenai transformasi pertanian di wilayahnya:
“Pertanian modern bukan sekadar soal mesin, tapi soal presisi mental dalam menghadapi tantangan alam. Panen di lahan tadah hujan Leggung Barat ini adalah bukti otentik bahwa dengan varietas yang tepat seperti Inpari 42 dan manajemen pola tanam yang cerdas, kita bisa mematahkan stigma bahwa lahan marginal itu tidak produktif. Kita tidak hanya memanen padi, kita sedang memanen kedaulatan pangan di tanah sendiri secara bermartabat.” Ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Dewo Ringgih Katimker (Ketua Tim Kerja) Penyuluh Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian, yang menekankan pentingnya sinergi antara hasil lapangan dan serapan pasar.
“Kami hadir bukan hanya untuk mendampingi budidaya, tapi memastikan rantai pasok dari sawah ke gudang Bulog berjalan tanpa distorsi. Harga Rp6.500 ini adalah bentuk penghormatan negara terhadap keringat petani. Ini adalah langkah taktis untuk memastikan bahwa ke depan, Batang-Batang tetap menjadi lumbung penyangga yang tangguh bagi Kabupaten Sumenep.”ujarnya.
PPL Desa setempat, Wibi Kurnianto, menambahkan bahwa keberhasilan di Leggung Barat ini diharapkan menjadi stimulasi bagi desa-desa lain di Kecamatan Batang-Batang. Dengan total LBS 1.262 hektar, jika dikelola dengan standar yang sama, Batang-Batang akan menjadi kontributor utama swasembada pangan di Madura.
Red./Editor: Ferry Arbania




.gif)







