Menanti “Tangan Dingin” Petani Milenial: Mengolah Lahan Raksasa 131 Ribu Hektare di Sumenep

oleh -291 Dilihat
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo, Chainur Rasyid Kepala DKPP dan Forpimda dalam acara “Temu Tani dan Bazar Tani 2024”, di Pendopo Agung Keraton, Senin 2 September 2024.[Foto: Dok. Maduratani/Istimewa]

 


SUMENEP – Kabupaten Sumenep sedang berada di persimpangan jalan menuju modernisasi pertanian. Dengan total potensi lahan pertanian mencapai 131.308 hektare, Pemerintah Kabupaten Sumenep kini menaruh harapan besar pada pundak generasi muda atau “Petani Milenial”. Langkah ini dipandang sebagai solusi investigatif untuk mendongkrak Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) melalui sentuhan teknologi dan kreativitas.

Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, dalam momentum Temu Tani dan Bazar Tani 2024, menegaskan bahwa sektor pertanian tidak boleh lagi dikelola dengan cara-cara konvensional semata. Sinergi antara kearifan lokal dan teknologi menjadi harga mati untuk keberlanjutan pangan.

 




“Pembangunan sektor pertanian harus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan mengakomodir perkembangan teknologi. Di sinilah peran vital petani milenial untuk menggerakkan kreativitas,” tegas Bupati di Pendopo Agung Keraton.

Membedah Potensi Lahan: Raksasa yang Belum Sepenuhnya Terjamah

Data menunjukkan bahwa Sumenep memiliki modal alam yang luar biasa. Dari total luas lahan, terdapat 27.283 hektare lahan sawah dan 104.025 hektare lahan bukan sawah yang tersebar di daratan maupun kepulauan.

Komoditas unggulan yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Sumenep meliputi:


 

  • Hortikultura & Pangan: Padi, jagung, kacang hijau, cabai, dan bawang merah.

  • Komoditas Strategis: Tembakau dan Cabai Jamu (unggulan nasional).

  • Perkebunan & Peternakan: Kelapa, sapi, kambing, hingga domba.

Investigasi di lapangan menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan seluas itu membutuhkan efisiensi yang hanya bisa dicapai melalui mekanisasi dan digitalisasi pertanian—sebuah bidang yang sangat akrab dengan generasi muda.

Bazar Tani: Pintu Masuk Industrialisasi Lokal

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep, Chainur Rasyid, memandang bahwa inovasi tidak berhenti di lahan, melainkan harus sampai ke meja pasar. Melalui ajang Bazar Tani, pemerintah berupaya memutus rantai pemasaran yang panjang dengan memperkenalkan produk unggulan langsung ke masyarakat.

“Bazar ini adalah ajang promosi supaya produk lokal semakin dikenal. Jika pemasaran luas, motivasi petani untuk meningkatkan produktivitas akan otomatis naik menuju kemandirian pangan,” jelas Chainur Rasyid.

Tantangan Sinergi dan Kemandirian Pangan

Bupati Fauzi mengakui bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mengubah citra pertanian yang “kotor dan melelahkan” menjadi sektor bisnis yang keren dan menjanjikan bagi pemuda.

Dukungan sarana dan prasarana (Sarpras) kini mulai digelontorkan secara intensif oleh Pemkab Sumenep untuk memancing minat milenial. Tujuannya satu: menciptakan kemandirian pangan di mana Sumenep tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga pusat kreativitas produk turunan pertanian di Jawa Timur.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.