SUMENEP – Kabupaten Sumenep kembali mengukuhkan diri sebagai barometer seni tanaman hias di Jawa Timur. Sepanjang tahun 2025, Bumi Sumekar bertransformasi menjadi galeri terbuka bagi para kolektor melalui deretan pameran bonsai bergengsi. Dari pesisir Saronggi hingga eksotisme Pulau Talango, ratusan “seni hidup” dipamerkan, menciptakan daya tarik wisata baru yang memadukan keindahan alam dan kreativitas manusia.
Saroka Menjadi Kiblat Bonsai Jawa Timur
Puncak kemeriahan terjadi pada Juni 2025 dalam perhelatan Gebyar Bonsai Saroka. Lapangan Sabara di Desa Saroka, Kecamatan Saronggi, disulap menjadi hutan mini yang menampilkan ratusan koleksi bonsai kelas bintang.
Tidak tanggung-tanggung, peserta yang hadir tidak hanya berasal dari empat kabupaten di Madura (Pamekasan, Sampang, Bangkalan, dan Sumenep), tetapi juga diikuti oleh komunitas dari Surabaya dan Malang. Kehadiran peserta dari luar pulau ini membuktikan bahwa kualitas bahan bonsai asal Sumenep, terutama jenis lokal seperti Santigi dan Serut, memiliki daya saing tinggi di level regional.
Lebih dari Sekadar Hobi: Strategi Ekonomi Kreatif
Pameran ini bukan sekadar ajang pamer keindahan. Bupati Sumenep dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa kegiatan seperti ini adalah penggerak ekonomi kreatif (Ekraf) yang nyata.
“Melalui pameran di Saroka ini, kita ingin memberikan wadah bagi para seniman bonsai untuk meningkatkan nilai ekonomis karyanya. Bonsai bukan hanya tanaman, tapi investasi seni yang mampu mendongkrak kesejahteraan masyarakat,” tulis laporan terkait kegiatan ekonomi kreatif daerah.
Efek domino dari acara ini sangat terasa bagi warga lokal Desa Saroka. Sektor UMKM, penginapan, hingga pedagang perlengkapan hobi (pot, kawat, dan pupuk) mengalami peningkatan omzet yang signifikan selama gelaran berlangsung.
Nirwana Bonsai Talango: Perkuat Silaturahmi di Pulau Seberang
Sebelum kemeriahan di Saronggi, geliat pecinta tanaman kerdil ini telah dimulai di Nirwana Bonsai Talango pada April 2025. Bertempat di Desa Talango, pameran ini mengusung misi memperkuat silaturahmi antar-pecinta bonsai (penggemar bonsai) di wilayah kepulauan.
Kecamatan Talango, yang dikenal dengan wisata religinya, kini mendapatkan warna baru melalui sektor Agrowisata. Pameran bonsai di wilayah ini memberikan perspektif bahwa potensi alam Sumenep bisa dikelola menjadi daya tarik wisata yang elegan dan bernilai jual tinggi.
Menuju Agenda Rutin Tahunan
Melihat antusiasme masyarakat dan besarnya perputaran uang dalam bursa bonsai, pemerintah daerah dan komunitas sepakat untuk menjadikan Gebyar Bonsai sebagai agenda rutin tahunan. Harapannya, Sumenep tidak hanya dikenal sebagai penghasil bahan bonsai alam yang melimpah, tetapi juga sebagai pusat “seniman” bonsai yang mampu mengolah tanaman dari alam menjadi karya seni yang mendunia.
Bagi Anda pecinta estetika, mengunjungi pameran bonsai di Sumenep adalah pengalaman yang menenangkan sekaligus menginspirasi. Sebuah harmoni antara kesabaran manusia dan keajaiban pertumbuhan alam.




.gif)



