Maduratani.com – Komoditas cabai rawit merah kembali menjadi episentrum perhatian publik di awal tahun 2026 akibat fluktuasi harga yang ekstrem. Berdasarkan pantauan di pasar-pasar strategis seperti Pasar Anom Baru dan Pasar Tradisional Gapura, harga eceran sempat meroket hingga menyentuh angka $Rp100.000$ – $Rp120.000$ per kilogram, sebelum akhirnya terkoreksi ke kisaran $Rp60.000$ – $Rp75.000$ per kilogram pada pekan kedua Januari.
Secara teoritis dan empiris, fenomena “naik-turun” harga ini merupakan manifestasi dari beberapa variabel ekonomi makro dan teknis pertanian yang saling berkelindan.
1. Analisis Sisi Penawaran (Supply Side Shock)
Ketidakstabilan harga cabai di Sumenep sangat dipengaruhi oleh ketergantungan pada daerah penghasil eksternal seperti Probolinggo dan Kediri. Secara ilmiah, fluktuasi ini disebabkan oleh:
-
Faktor Agroklimatologi: Lonjakan harga hingga $Rp120.000$ dipicu oleh anomali cuaca di daerah produsen yang menyebabkan penurunan yield (hasil panen) secara signifikan. Serangan hama pada kondisi kelembapan tinggi sering kali mengurangi supply di pasar secara mendadak.
-
Logistik dan Distribusi: Sebagai komoditas highly perishable (mudah rusak), biaya transportasi dan risiko kerusakan selama perjalanan dari Jawa Timur daratan menuju ujung timur Madura menambah beban pada struktur harga akhir.
2. Analisis Sisi Permintaan (Demand Pull Inflation)
Menjelang pergantian tahun dan awal Januari, terjadi peningkatan kurva permintaan yang tidak dibarengi dengan ketersediaan stok (scarcity). Dalam hukum permintaan dan penawaran, pergeseran kurva permintaan ke kanan sementara stok terbatas secara otomatis akan menciptakan titik keseimbangan harga baru yang jauh lebih tinggi.
“Vulnerabilitas harga cabai di Sumenep menunjukkan betapa sensitifnya pasar lokal terhadap gangguan rantai pasok regional. Ketika stok mulai melimpah di daerah pengirim, harga di tingkat eceran Sumenep merespons dengan penurunan rata-rata 35-40% hanya dalam hitungan hari.”
3. Data Harga Riil Per Januari 2026
Berikut adalah ringkasan pergerakan harga komoditas cabai di wilayah pantauan:
| Komoditas | Harga Puncak (Eceran) | Harga Terkini (Melandai) | Lokasi Pantauan |
| Cabai Rawit Merah | $Rp120.000/kg$ | $Rp60.000 – Rp75.000/kg$ | Pasar Anom Baru & Gapura |
| Pemicu Utama | Kelangkaan Stok & Cuaca | Masuknya Pasokan Regional | Jalur Probolinggo & Kediri |
4. Solusi Strategis dan Perspektif Ilmiah
Untuk memitigasi volatilitas yang terus berulang setiap tahunnya, diperlukan pendekatan ekonomi struktural, di antaranya:
-
Penguatan Produksi Lokal: Mengurangi dependensi pada pasokan luar daerah dengan mengoptimalkan lahan pertanian lokal di Sumenep melalui teknologi greenhouse untuk memitigasi risiko cuaca.
-
Manajemen Stok (Cold Storage): Investasi pada teknologi penyimpanan suhu rendah untuk memperpanjang masa simpan cabai, sehingga pemerintah daerah memiliki instrumen untuk melakukan intervensi pasar saat pasokan menipis.
-
Diversifikasi Pola Tanam: Pengaturan jadwal tanam antar wilayah di Madura guna memastikan ketersediaan stok sepanjang musim.
Kesimpulan

Penurunan harga cabai di Sumenep ke angka $Rp60.000$ merupakan sinyal normalisasi rantai pasok. Namun, tanpa adanya kemandirian pangan dan perbaikan sistem logistik, harga cabai akan tetap menjadi komoditas “liar” yang berkontribusi signifikan terhadap angka inflasi daerah di masa depan.***
Tim Liputan Maduratani.com




.gif)







