Sumenep Perkuat Takhta “Emas Hitam”: Bluto Diproyeksikan Jadi Pusat Budidaya Cabai Jamu Intensif 2025

oleh -153 Dilihat

 


SUMENEP – Kabupaten Sumenep kembali mempertegas posisinya sebagai lumbung komoditas unggulan di Jawa Timur. Memasuki tahun 2025, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep memproyeksikan Desa Bluto dan Desa Lobuk di Kecamatan Bluto sebagai pusat pengembangan budidaya cabai jamu (Piper retrofractum Vahl) secara intensif.

Langkah strategis ini diambil menyusul tingginya potensi pasar komoditas yang kerap dijuluki sebagai “Emas Hitam” dari Madura tersebut. Tidak hanya fokus pada perluasan lahan, pemerintah daerah kini mulai menitikberatkan pada standarisasi pasca-panen untuk meningkatkan nilai tambah bagi petani lokal.

 




Agroklimat Ideal: Rahasia Kualitas Cabai Jamu Bluto

Secara ilmiah, Kecamatan Bluto memiliki keunggulan agroklimat yang sulit ditiru wilayah lain. Cabai jamu membutuhkan tekstur tanah yang remah dan drainase yang baik untuk menghindari busuk akar. Desa Bluto dan Lobuk secara geografis memenuhi kriteria tersebut, dengan paparan sinar matahari yang cukup untuk memicu pembentukan senyawa piperin.

Senyawa piperin inilah yang memberikan cita rasa pedas khas dan aroma yang kuat. Berdasarkan berbagai riset farmakologi, cabai jamu asal Madura diakui memiliki kualitas simplisia (bahan alami kering) terbaik karena kadar air yang rendah dan kandungan minyak atsiri yang tinggi, sehingga sangat diminati oleh industri jamu herbal nasional dan pasar ekspor seperti Tiongkok dan India.

Transformasi Budidaya Intensif 2025

Kepala DKPP Sumenep melalui pantauan awal tahun 2025 menyatakan bahwa pergeseran dari budidaya tradisional ke pola intensif sangat krusial.


 

“Kami mendorong kawasan Bluto dan Lobuk tidak hanya sebagai penghasil, tapi sebagai pusat pengelolaan. Fokus kami di 2025 adalah edukasi pasca-panen agar petani menghasilkan simplisia berkualitas grade A yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dibanding menjual cabai basah,” tulis laporan perkembangan pertanian setempat.

Budidaya intensif ini mencakup penggunaan tiang panjat (lanjaran) yang lebih teratur, pemupukan organik terpadu, hingga penyediaan alat pengering mekanis untuk menjaga warna dan kebersihan produk saat cuaca tidak menentu.

Dinamika Pasar: Cabai Rawit Masih Bertahan di Level Tinggi

Sementara fokus jangka panjang diarahkan pada cabai jamu, komoditas hortikultura harian seperti cabai rawit juga menjadi perhatian. Di awal Januari 2025, harga cabai rawit di Pasar Anom Baru Sumenep terpantau masih berada di level tinggi.

Kondisi ini dipicu oleh tingginya permintaan pasar domestik di awal tahun. Namun, ketersediaan pasokan di Sumenep dipastikan tetap aman berkat wilayah pemasok lokal yang mulai memasuki masa panen raya. Stabilitas pasokan ini menjadi bukti bahwa ekosistem pertanian di Bumi Sumekar tetap tangguh di tengah fluktuasi harga nasional.

Peluang Ekonomi dan Masa Depan

Pengembangan sentra cabai jamu di Kecamatan Bluto diharapkan mampu mendongkrak pendapatan asli desa melalui pemberdayaan petani. Dengan pengelolaan yang baik, cabai jamu bukan sekadar tanaman sela, melainkan komoditas utama yang mampu memberikan kepastian ekonomi berkelanjutan bagi warga Sumenep.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.