SUMENEP, Maduratani.com — Aroma tanah basah setelah diguyur hujan deras pertengahan Juni lalu memicu debar di dada para petani tembakau di ujung timur Pulau Madura. Di satu sisi, hujan membawa berkah hidrologis bagi penyerapan hara tanah. Di sisi lain, anomali cuaca di awal musim tanam adalah alarm bagi kualitas komoditas emas hijau ini. Menanggapi situasi krusial ini, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep bergerak taktis.
Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, SE., M.Si.—atau yang karib disapa Haji Inung—langsung menginstruksikan jajarannya untuk memperketat asistensi di lapangan. Langkah preventif (pencegahan) ini diambil guna memastikan fluktuasi iklim tidak merusak struktur proteksi dan mutu tembakau Madura yang dikenal berkadar nikotin khas dan berdaya saing tinggi.
“Petani harus jeli menjaga mutu sejak awal musim tanam. Kami di dinas tidak ingin komoditas unggulan ini jatuh harganya di tingkat pabrikan hanya karena kelalaian teknis di fase vegetatif awal,” ujar Haji Inung dalam sebuah kesempatan koordinasi lapangan.
Sikap tanggap dan respons cepat (gercep) dari nakhoda DKPP Sumenep ini bukan tanpa landasan struktural. Dalam perspektif Administrasi Publik, manajemen respons cepat yang ditunjukkan Chainur Rasyid mencerminkan penerapan Dynamic Governance (Tata Kelola Dinamis). Aparatur birokrasi tidak sekadar menunggu laporan di balik meja, melainkan melakukan intervensi kebijakan yang adaptif terhadap dinamika alam dan pasar.
Akselerasi program terlihat nyata lewat alokasi anggaran daerah. Di bawah komando Haji Inung, DKPP Sumenep langsung mengamankan penyaluran bantuan benih tembakau gratis yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) senilai Rp3 Miliar kepada 20 kelompok tani terpilih. Kepastian pencairan dan distribusi benih unggul ini menjadi jawaban atas kekhawatiran sebagian petani mengenai keterlambatan logistik tanam. Tak hanya itu, penguatan mekanisasi pertanian juga digenjot dengan penyiapan anggaran Rp1,9 Miliar untuk pengadaan hand tractor pada tahun anggaran 2026 demi efisiensi biaya produksi petani.
Langkah taktis birokrasi ini terbukti membuahkan reputasi impresif. Baru-baru ini, Gabungan Kelompok Tani dan Desa (Gapoktandes) Gading Kuning Sumenep sukses menyabet Juara I dalam Pelatihan Inovasi Tembakau Tingkat Jawa Timur 2026. Prestasi elektif ini menjadi bukti sahih bahwa pembinaan intensif, transfer teknologi modern, dan ketepatan mitigasi dinas mampu menaikkan kelas petani Sumenep di level regional.
Namun, penguatan sektor hulu (produksi) tentu akan timpang tanpa ditopang oleh penguatan sektor antara (permodalan). Mengacu pada teori manajemen anggaran publik, aksesibilitas modal merupakan determinan utama untuk memutus rantai ketergantungan petani pada sistem ijon yang eksploitatif. Sadar akan kerentanan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumenep secara paralel menggelar pembinaan intensif terkait tata cara pengajuan dan penyerapan modal usaha melalui lembaga perbankan resmi. Melalui sinkronisasi ini, petani diajari mengelola arus kas (cash flow) usaha tani secara ilmiah dan akuntabel.
Di tingkat komoditas hortikultura lain, gerak taktis DKPP juga terlihat di Kecamatan Rubaru. Sinergi lintas sektoral bersama aparat wilayah (Bhabinkamtibmas) terus dilakukan dalam memonitoring keberhasilan budidaya bawang merah varietitas lokal unggulan di Desa Basoka. Langkah terintegrasi ini merupakan perwujudan dari konsep Holistic Government, di mana urusan ketahanan pangan dikerjakan secara gotong royong demi menjaga stabilitas pasokan dan kesejahteraan petani lokal.
Menghadapi sisa musim tanam tahun 2026, tantangan terbesar kini bergeser pada hilirisasi dan penyerapan pasar. Haji Inung menegaskan bahwa kunci utama menjaga stabilitas harga terletak pada komitmen serapan industri lokal. Melalui koordinasi ketat dan pengawasan mutu, DKPP Sumenep optimistis emas hijau Madura tahun ini mampu memenuhi kualifikasi ketat gudang-gudang pabrikan rokok raksasa.
Dengan perpaduan inovasi petani, jaminan permodalan, serta kepemimpinan birokrasi yang taktis dan suportif, Sumenep kini tengah menulis ulang narasi pertanian modern di tanah Madura: sebuah ekosistem di mana keringat petani tidak lagi dihargai murah. (Ferry Arbania)




.gif)








