NGANJUK, MADURATANI.COM – Target empat tahun yang dipatok pemerintah langsung tumbang di tangan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Tak butuh waktu lama, hanya dalam waktu satu tahun, Indonesia sukses menyabet status swasembada pangan nasional. Keberhasilan super cepat ini sontak memicu kekaguman dan apresiasi setinggi langit dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Pujian hangat tersebut dilontarkan langsung oleh Presiden Prabowo saat memberikan sambutan dalam Peresmian Operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Jumat (16/5/2026).
“Kita swasembada pangan, perjuangan yang tidak ringan. Kita negara besar dengan 287 juta rakyat. Menjamin pangan 287 juta orang bukan pekerjaan ringan. Tapi kita berhasil,” tegas Presiden Prabowo di hadapan para undangan yang hadir.
Prabowo Buka Kartu Soal Mentan Amran
Sebagai Kepala Negara yang memikul tanggung jawab penuh atas urusan perut rakyat, Prabowo mengaku awalnya memberikan target swasembada dalam waktu empat tahun kepada Mentan Amran. Namun, gebrakan cepat jajaran Kementerian Pertanian (Kementan) justru membuahkan hasil di luar ekspektasi.
“Saya beri tugas ke Menteri Pertanian dan semua timnya, saya minta swasembada pangan dalam empat tahun. Mereka bisa hasilkan dalam satu tahun,” puji Prabowo bangga.
Presiden bahkan blak-blakan menceritakan awal mulanya memilih Andi Amran Sulaiman. Baginya, Mentan Amran adalah sosok langka yang memiliki kapasitas, pengalaman matang, dan hati yang sepenuhnya berpihak pada nasib petani.
“Saya terima kasih. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa ketemu seorang kayak Andi Amran Sulaiman. Saya tidak pernah kenal beliau. Kebetulan saya ketemu, saya tanya dua tiga pertanyaan, ini orang oke pemikirannya,” kenang Presiden.
Kelebihan Amran, lanjut Prabowo, karena ia memahami dunia pertanian dari hulu hingga hilir. “Beliau pernah menjadi Menteri Pertanian, sebelumnya beliau adalah pelaku, dan beliau datang dari keluarga petani, beliau anaknya petani, jadi beliau mengerti masalah,” tambahnya.
Bukan Cuma Bisnis, Pangan Adalah Mati Hidupnya Bangsa
Dalam kesempatan di Jawa Timur tersebut, Presiden Prabowo mengingatkan bahwa urusan pangan bukan sekadar hitung-hitungan ekonomi atau komoditas dagang biasa. Pangan adalah persoalan survival (hidup mati) suatu bangsa.
Prabowo secara tegas menolak mentah-mentah paham yang selalu mendewakan impor dengan alasan lebih efisien.
“Survival bangsa bukan sekadar lebih murah, tetapi ada atau tidak (barangnya). Sekarang banyak negara minta beli beras dari kita. Tetangga kita yang menganggap dirinya lebih hebat dari kita, sekarang harus datang ke Indonesia minta boleh beli beras,” sindir Prabowo.
Meski kini banyak negara mengantre ingin membeli beras Indonesia di tengah krisis pangan global, Prabowo memastikan pemerintah tidak akan gegabah. Kesejahteraan petani lokal tetap menjadi harga mati.
“Yang utama kita amankan rakyat dulu. Jangan petani kita korban. Harga harus minimal untung,” cetus Mantan Petinggi TNI tersebut.
Data Berbicara: Cetak Rekor Beras Lewat Tangan Dingin Mentan
Keberhasilan swasembada kilat ini bukan isapan jempol belaka. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional pada tahun 2025 melonjak tajam hingga mencapai 34,69 juta ton. Angka ini naik drastis sebesar 4,07 juta ton (13,29 persen) jika dibandingkan dengan tahun 2024. Tak hanya itu, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di tahun 2026 ini juga dilaporkan sangat gemuk, menyentuh angka 5,3 juta ton.
Dibalik angka-angka mentereng tersebut, ada sederet kebijakan berani yang digelontorkan Kementan di bawah komando Andi Amran Sulaiman untuk memanjakan petani, di antaranya:
-
Kuota Pupuk Subsidi Melejit: Ditambah menjadi 8,55 juta ton.
-
Harga Pupuk Dipangkas: Turun hingga 20 persen demi meringankan beban biaya tanam.
-
Harga Gabah Dijaga: Penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah di tingkat petani naik menjadi Rp 6.500 per kilogram agar petani pasti untung.
-
Birokrasi Dipotong: Penyederhanaan berbagai regulasi yang menyulitkan petani.
Selain urusan regulasi, Mentan Amran juga melakukan akselerasi masif di lapangan, mulai dari program optimalisasi lahan, jurus pompanisasi di daerah rawan kekeringan, perbaikan irigasi, pembagian benih unggul gratis, hingga menyulap pertanian tradisional menjadi modern lewat bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) secara besar-besaran.
Lewat kolaborasi apik antara kepemimpinan tegas Presiden Prabowo dan kerja taktis-cepat Mentan Amran, Indonesia kini membuktikan diri mampu berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) di tengah ancaman krisis global. Momentum kebangkitan ini diharapkan terus berlanjut, menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia yang disegani, dengan petani yang hidup sejahtera. (Red)




.gif)






