Transformasi Pasongsongan Menjadi Sentra Kopi Nasional, DKPP Sumenep Perkuat Budidaya Arabika dan Robusta

oleh -338 Dilihat
Chainur Rasyid Kepala DKPP Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menyerahkan 25 ribu bibit kopi Arabika kepada 2 kelompok tani (Poktan). ISTIMEWA.

 


SUMENEP – Kabupaten Sumenep terus memperluas peta komoditas unggulannya. Setelah sukses dengan bawang merah dan kacang komak, kini giliran sektor perkebunan kopi yang digenjot. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep secara strategis mulai mengembangkan varietas Arabika untuk mendampingi kesuksesan kopi Robusta lokal yang telah lebih dulu mendunia.

1. Ekspansi 25 Ribu Bibit Arabika ke Wilayah Potensial

Sebagai bagian dari dukungan Kementerian Pertanian RI, DKPP Sumenep telah menyalurkan 25.000 bibit kopi Arabika kepada dua Kelompok Tani (Poktan) terpilih di Kecamatan Pasongsongan dan Rubaru.

 




Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, S.E. (yang akrab disapa Inong), menjelaskan bahwa pemilihan lokasi ini didasarkan pada analisis potensi lahan yang sangat mendukung untuk tanaman kopi dataran tinggi.

“Kami melihat potensi besar di Sumenep. Oleh karena itu, bantuan ini bertujuan untuk menciptakan diversifikasi varietas sehingga Sumenep tidak hanya dikenal dengan Robustanya, tetapi juga mampu menghasilkan Arabika berkualitas,” ujar Inong.


2. Pasongsongan: Rumah bagi Kopi Robusta Terbaik Indonesia

Kecamatan Pasongsongan, khususnya Desa Prancak, telah lama dikenal sebagai daerah penghasil kopi Robusta dengan karakter unik. Keistimewaan kopi dari wilayah ini bahkan sempat mendapat apresiasi dari tokoh nasional.


 

Ketua Poktan Bina Karya, M. Junaidi Sholeh, mengungkapkan bahwa kopi Robusta asal Desa Prancak memiliki profil rasa yang sangat langka.

“Sesuai penilaian dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kopi Robusta Prancak dinilai sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia. Keunggulannya terletak pada aroma khas nangka dan aroma tembakau yang tidak ditemukan di daerah lain,” jelas Junaidi.


3. Strategi Hilirisasi: Dari Bibit hingga Sentra Pengolahan

DKPP Sumenep tidak sekadar memberikan bantuan bibit lalu melepas petani begitu saja. Program ini dirancang secara terintegrasi dari hulu ke hilir:

  • Pendampingan Intensif: Petani mendapatkan pengawasan mingguan untuk memastikan perkembangan bibit Arabika optimal.

  • Pusat Pengolahan: Pasongsongan diproyeksikan tidak hanya sebagai lahan tanam, tetapi juga sebagai Sentra Pengolahan Kopi.

  • Target Pasar: Dengan pengolahan yang terstandar, produk akhir kopi Sumenep diharapkan siap bersaing di pasar retail modern dan kafe-kafe specialty coffee nasional.


4. Kopi Sumenep dalam Peta Ekonomi Kreatif

Langkah Inong dan DKPP Sumenep ini sejalan dengan tren gaya hidup minum kopi (coffee culture) yang terus meningkat. Dengan mengandalkan narasi “Kopi Aroma Tembakau” yang unik, kopi Sumenep memiliki nilai jual tinggi dalam sektor ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis agrikultur.

Pemerintah daerah berharap, perpaduan antara Robusta Prancak yang legendaris dan Arabika yang baru dikembangkan akan menjadikan Sumenep sebagai destinasi kopi unggulan di Jawa Timur.

[tim/red]


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.