SUMENEP, Maduratani.com — Sektor pertanian di Kabupaten Sumenep tengah mengalami transformasi struktural yang signifikan. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep mencatat ekspansi masif pada komoditas perkebunan, di mana luas lahan tembakau pada musim tanam kali ini diprediksi melonjak hingga mencapai 14.000 hektare. Langkah ekspansif ini diimbangi dengan intervensi teknologi pertanian berkelanjutan dan penguatan ketahanan pangan berbasis komunitas di wilayah daratan hingga kepulauan.
Secara teoritis, dalam kerangka Public Sector Administration, keberhasilan pembangunan pertanian daerah sangat bergantung pada intervensi kebijakan yang adaptif (Sabatier, 2007). DKPP Sumenep menerapkan prinsip ini dengan mendorong inovasi substitusi input produksi, salah satunya memotivasi petani memanfaatkan pupuk organik dari kotoran kelelawar (guano). Langkah ini dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk subsidi eksternal sekaligus memperbaiki struktur hara tanah secara jangka panjang.
Akselerasi Swasembada dan Metode SRI
Di sektor pangan, upaya menuju swasembada pangan dilakukan melalui pendekatan modernisasi dan pelatihan intensif. Salah satu program andalannya adalah implementasi metode SRI (System of Rice Intensification).
Berdasarkan analisis efisiensi administrasi publik, metode SRI memberikan keunggulan komparatif yang tinggi karena mampu mereduksi penggunaan air hingga 40%, menekan kebutuhan benih, namun secara simultan meningkatkan produktivitas hasil panen secara eksponensial.
Catatan Redaksi: Penguatan ketahanan pangan di Sumenep kini melibatkan sinergi lintas instansi. Jajaran Polres Sumenep, termasuk Bhabinkamtibmas Polsek Sapeken di wilayah kepulauan, turun langsung melakukan pendampingan kepada petani lokal, seperti pemantauan budidaya tanaman singkong sebagai alternatif karbohidrat non-beras.
Diversifikasi Komoditas: Dari Kacang Komak hingga Ekspor Bawang Rubaru
Selain tembakau dan padi, Sumenep juga mencatatkan prestasi di sektor diversifikasi hayati. Tiga varietas lokal kacang komak asal Sumenep kini telah mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah pusat dan ditetapkan sebagai komoditas unggulan daerah. Langkah ini memperkuat hilirisasi produk pertanian berbasis kearifan lokal.
Di sisi lain, ekosistem agribisnis Sumenep membuktikan daya saingnya di pasar internasional. Produk olahan bawang goreng khas Rubaru berhasil menembus pasar ekspor ke Belanda melalui kontrak kerja sama jangka panjang yang diinisiasi oleh kelompok tani setempat. Keberhasilan ekspor ini merefleksikan berjalannya fungsi fasilitasi pemerintah dalam inter-organizational networks yang menghubungkan petani lokal dengan rantai pasok global.
Untuk keberlanjutan sektor ini, peran petani milenial juga terus dipacu melalui adopsi teknologi modern, seperti budidaya selada hidroponik yang efisien lahan dan bernilai ekonomi tinggi.
Bagi para penyuluh dan petani yang ingin memantau pembaruan data teknis serta program pelatihan terbaru, rujukan resmi dapat diakses melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan Kementerian Pertanian, atau memantau pembaruan program kerja berkala melalui akun komunikasi publik resmi di Instagram DKPP Sumenep. (Ferry Arbania)




.gif)






