SUMENEP – Langkah berani Kelompok Tani (Poktan) Kreatif Desa Bringsang, Kecamatan Giligenting, dalam membudidayakan vanili kini mulai memetik hasil manis. Inovasi yang dimulai sejak awal 2022 tersebut kini telah bertransformasi menjadi salah satu komoditas andalan yang berpotensi mendongkrak ekonomi warga di kepulauan Sumenep.
Vanili, yang dikenal sebagai “Emas Hijau” karena nilai ekonominya yang tinggi, awalnya merupakan hal baru bagi petani di Desa Bringsang. Namun, berkat ketekunan dan kerja sama tim, budidaya ini membuktikan bahwa lahan di Giligenting mampu menghasilkan produk perkebunan kualitas premium.
Ketekunan Berbuah Manis di Lahan Kepulauan
Ketua Poktan Kreatif Desa Bringsang, Moh. Yasin, mengakui bahwa perjalanan budidaya vanili tidaklah instan. Memasuki tahun 2026, kematangan tanaman dan konsistensi perawatan mulai menunjukkan progres signifikan.
“Perawatan vanili memang menuntut ketelitian ekstra, namun hasil yang didapat sebanding dengan perjuangannya. Semangat kebersamaan anggota kelompok adalah kunci utama mengapa vanili di Desa Bringsang ini bisa bertahan dan berkembang hingga sekarang,” ujar Yasin saat diwawancarai wartawan.
Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadikan Desa Bringsang sebagai sentra produksi vanili pertama dan satu-satunya di Kecamatan Giligenting, yang mampu menyuplai kebutuhan pasar lokal maupun luar daerah.
Dukungan Pemerintah Desa: Menuju Desa Percontohan
Kepala Desa (Kades) Bringsang, Achmad Muzakki, terus memberikan dukungan penuh terhadap inovasi sektor perkebunan ini. Menurutnya, keberhasilan Poktan Kreatif dalam mengelola vanili harus menjadi inspirasi bagi kelompok tani lainnya di Giligenting untuk berani mencoba komoditas bernilai tinggi.
“Kami berharap kelompok-kelompok tani lain di Desa Bringsang bisa proaktif. Keberhasilan vanili ini adalah bukti nyata bahwa jika dikelola dengan serius, sektor pertanian bisa menjamin kesejahteraan masyarakat,” tegas Muzakki.
Lanjutnya, Pemerintah Desa Bringsang berkomitmen untuk menjadikan wilayahnya sebagai Desa Percontohan Agribisnis di Kabupaten Sumenep, di mana kemandirian ekonomi masyarakatnya berbasis pada inovasi pertanian modern.
Dampak Ekonomi dan Prospek Kedepan
Dengan harga vanili kering yang stabil di angka jutaan rupiah per kilogram, komoditas ini menjadi harapan baru di tengah fluktuasi harga komoditas tradisional lainnya. Fokus ke depan adalah pengembangan unit pengolahan pascapanen agar petani tidak hanya menjual polong basah, tetapi mampu mengolahnya menjadi vanili kering siap ekspor.




.gif)



