Ambisi Swasembada Pangan 2026: Anggaran Kementan Melejit Rp44 Triliun, Apa Dampaknya Bagi Madura?

oleh -358 Dilihat
Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam Panen Raya Serentak di Majalengka. [Foto: dok.Maduratani.com/Instagram a.amran_sulaiman]

 


Maduratani.com – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) RI resmi menetapkan arah kemudi besar untuk tahun 2026. Fokusnya tidak main-main: Swasembada Pangan Berkelanjutan. Untuk mengejar target produksi beras nasional sebesar 34,77 juta ton, Kementan mengajukan lonjakan anggaran yang sangat signifikan, dari Rp13,75 triliun menjadi Rp44,64 triliun.

Bagi Pulau Madura, kebijakan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan peluang emas bagi akselerasi agribisnis lokal yang selama ini menjadi fokus Maduratani.com.

 




Modernisasi dan Cetak Sawah: Jawaban untuk Lahan Tidur

Salah satu strategi utama Kementan adalah penguatan infrastruktur melalui pencetakan sawah baru dan optimalisasi lahan. Di Madura, di mana lahan kering masih mendominasi, program perbaikan irigasi dan jalan usaha tani yang didukung modernisasi alat mesin pertanian (alsintan) akan menjadi kunci.

Target produksi jagung nasional sebesar 18-22,7 juta ton juga menjadi angin segar bagi petani di Sumenep dan Pamekasan yang merupakan salah satu lumbung jagung di Jawa Timur. Dengan penyediaan benih unggul dan reformasi distribusi pupuk yang dijanjikan pemerintah, biaya produksi di tingkat petani diharapkan bisa ditekan.

Hilirisasi: Madura Tak Lagi Sekadar Jual Bahan Mentah

Kementan 2026 menekankan pada Hilirisasi Komoditas strategis seperti tebu, kopi, kakao, kelapa, hingga lada. Bagi Madura yang kaya akan potensi kelapa dan tembakau (sebagai pendamping tebu), program ini adalah momentum untuk menambah nilai tambah produk lokal.


 

Pemerintah juga membidik penguatan ekosistem peternakan untuk protein hewani berkelanjutan. Mengingat Madura adalah “Pulau Sapi”, penguatan hilirisasi peternakan ayam terintegrasi dan daging sapi nasional akan memposisikan peternak Madura sebagai pemasok utama kebutuhan protein nasional guna mengurangi ketergantungan impor.

Petani Milenial: Garda Depan Asta Cita

Sejalan dengan 8 Misi Asta Cita pemerintahan baru, regenerasi petani menjadi harga mati. Program Petani Milenial akan mendapatkan dukungan penyuluhan berkelanjutan. Kementan memproyeksikan anak muda bukan lagi sebagai pekerja lahan tradisional, melainkan sebagai manajer pertanian modern yang menguasai teknologi digital.

Analisis Maduratani: Menjemput Anggaran Rp44,64 Triliun

Kenaikan anggaran hingga lebih dari 200% ini menunjukkan keseriusan negara dalam memandang pangan sebagai instrumen kedaulatan. Namun, tantangan di lapangan tetaplah sama: manajemen dan ketersediaan pupuk.

Reformasi pupuk yang dijanjikan Kementan harus benar-benar dirasakan oleh petani di pelosok desa di Madura. Tanpa transparansi distribusi, anggaran sebesar apa pun akan menemui jalan buntu.

“Madura harus siap menjemput bola. Dengan potensi sapi, jagung, dan cabai yang luar biasa, infrastruktur yang akan dibangun Kementan di 2026 harus mampu menghubungkan sawah-sawah kita langsung ke industri nasional,” tulis tim redaksi  dalam catatan editorialnya. ***


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.