Sejarah Baru di Karduluk: Inpari 42 Tembus 10 Ton/Ha, Bukti Lahan Kering Bukan Halangan Swasembada

oleh -287 Dilihat
Kegiatan panen raya padi varietas Inpari 42 di lahan kering Desa Karduluk Sumenep oleh Poktan Bintang Samporna

 


SUMENEP, MADURATANI.COM – Sebuah kesederhanaan yang membawa makna mendalam bagi kedaulatan pangan baru saja terukir di ujung timur Pulau Madura. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, sukses melangsungkan panen raya padi di lahan yang selama ini dikenal sebagai lahan kering marginal.

Pada Ahad, 15 Februari 2026, Kelompok Tani (Poktan) Bintang Samporna menunjukkan kepada dunia bahwa dengan varietas yang tepat dan pendampingan teknis yang konsisten, lahan kering mampu memberikan hasil yang melampaui rata-rata nasional.

 




Gebrakan Inpari 42: “Si Perkasa” di Tanah Kering

Keberhasilan ini berpusat pada penggunaan varietas Inpari 42 Agritan GSR (Green Super Rice). Berdasarkan data dari Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP), varietas ini memang dirancang untuk memiliki daya adaptasi tinggi terhadap cekaman lingkungan, termasuk keterbatasan air.

Wibi Zulkarnain, Penyuluh Pertanian setempat, mengungkapkan kekagumannya atas hasil ini. “Ini adalah panen padi perdana dan baru pertama kali ada di Desa Karduluk yang mayoritas lahannya kering. Petani di sini sebelumnya tidak pernah mencoba menanam padi di lahan seperti ini, dan hasilnya luar biasa,” ujarnya dengan nada optimis.

Data Ubinan: Produktivitas Fantastis

Hasil ubinan yang dilakukan oleh tim penyuluh bersama petani menunjukkan angka yang mengejutkan bagi banyak pihak. Produktivitas tercatat mencapai 10 ton per hektar Gabah Kering Panen (GKP).


 

Sebagai perbandingan, rata-rata produktivitas padi nasional umumnya berada di kisaran 5,2 hingga 5,8 ton/ha. Keberhasilan menembus angka 10 ton di lahan kering menunjukkan beberapa faktor kunci:

  1. Efisiensi Penggunaan Air: Inpari 42 mampu tetap produktif meski dengan curah hujan terbatas.

  2. Ketahanan Hama: Varietas ini memiliki ketahanan alami terhadap Wereng Batang Coklat (WBC) biotipe 1 dan Hawar Daun Bakteri.

  3. Manajemen Poktan: Kedisiplinan Poktan Bintang Samporna dalam pola tanam dan pemupukan organik.

Antusiasme dan Efek Domino

Acara panen perdana ini turut dihadiri oleh Tim Kerja (Katimker) serta Koordinator Penyuluh (Korluh) Kecamatan Pragaan, Kurniawan Adi Warsa. Melihat hamparan padi yang menguning di lahan yang biasanya gersang, ia mencatat adanya pergeseran paradigma di kalangan petani.

“Alhamdulillah, petani lainnya sangat antusias untuk meniru budidaya padi tersebut. Ini adalah sinyal positif bagi swasembada pangan berkelanjutan di tingkat desa,” imbuh Kurniawan.

Langkah Menuju Swasembada Berkelanjutan

Keberhasilan di Desa Karduluk ini menjadi proyek percontohan (pilot project) penting bagi Kabupaten Sumenep. Mengingat sebagian besar daratan Madura terdiri dari lahan kering, replikasi model Poktan Bintang Samporna bisa menjadi kunci utama dalam mencapai target hilirisasi dan swasembada pangan 2026 yang dicanangkan pemerintah pusat.

Kini, Desa Karduluk tidak lagi hanya dikenal dengan ukiran kayunya yang legendaris, tetapi juga sebagai pelopor transformasi lahan kering menjadi lumbung pangan yang menjanjikan.


Red/Editor: Ferry Arbania | Maduratani.com


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.