Waspada Penyakit Xanthomonas di Sumenep: Petani Gapura Gelar Gerakan Pengendalian

oleh -165 Dilihat
dok. Maduratani.com

 


Sumenep (Maduratani.com) – Masyarakat petani di Kabupaten Sumenep kini tengah dihantui oleh serangan bakteri Xanthomonas yang mulai merusak tanaman padi. Penyakit ini dilaporkan telah menyerang sebagian wilayah di Kecamatan Gapura, yang jika dibiarkan, berpotensi mengancam hasil panen raya tahun ini.

 




Menanggapi hal tersebut, langkah cepat diambil melalui Gerakan Pengendalian (Gerdal). Aksi ini melibatkan Korluh, PPL Kecamatan Gapura, POPT, serta Kelompok Tani (Poktan) Butir Sejati di Desa Gapura Barat.

“Untuk mengantisipasi agar penyakit Xanthomonas tidak semakin meluas, kami mengadakan Gerdal dengan menggunakan fungisida dan pendampingan teknis,” ujar Chainu Rasyid dalam keterangan resminya, Selasa (10 Februari 2026).

Pihaknya berharap langkah preventif ini dapat menekan penyebaran bakteri sehingga produktivitas tetap terjaga. “Semoga Gerdal ini menyelesaikan masalah petani dan meningkatkan produktivitas. Swasembada pangan adalah kemenangan petani dan kemenangan Indonesia,” pungkasnya.


 


Mengenal Xanthomonas: Si ‘Kresek’ Perusak Padi

Xanthomonas oryzae pv. oryzae adalah bakteri penyebab penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) atau yang akrab disebut Kresek. Patogen ini sangat serius karena menyerang sejak fase persemaian hingga menjelang panen, dengan potensi penurunan hasil hingga 40% bahkan gagal panen total.

1. Gejala yang Perlu Diwaspadai

  • Fase Bibit (Kresek): Daun menggulung, layu, dan tanaman mati mendadak.

  • Fase Tanaman Muda-Dewasa (Hawar): Muncul bercak kuning hingga putih keabu-abuan dari ujung atau tepi daun, lalu menyebar hingga seluruh daun mengering (blight).

2. Faktor Penyebab & Penyebaran

Bakteri ini berkembang pesat pada kondisi:

  • Lingkungan lembap dan suhu tinggi.

  • Angin kencang yang menyebabkan gesekan antar daun (luka pada daun menjadi pintu masuk bakteri).

  • Media penyebaran melalui sisa jerami, benih yang terinfeksi, aliran air irigasi, dan gulma di sekitar lahan.

3. Strategi Pengendalian Efektif

Untuk memutus rantai penyebaran, para ahli menyarankan langkah-langkah berikut:

  • Varietas Tahan: Menanam bibit yang memiliki ketahanan terhadap HDB.

  • Sanitasi Lahan: Membersihkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi agar tidak menulari musim tanam berikutnya.

  • Manajemen Pupuk: Hindari pemberian Nitrogen (N) berlebih. Sebaliknya, pastikan kecukupan unsur Kalium (K) untuk memperkuat daya tahan jaringan tanaman.

  • Bakterisida: Jika gejala awal muncul, segera aplikasikan bahan aktif tembaga (seperti Kuproxat 345 SC).

Red./Editor: Ferry Arbania


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.