SUMENEP – Masalah klasik kelangkaan pakan saat musim kemarau di Pulau Madura mulai menemukan titik terang. Dinas Peternakan Kabupaten Sumenep (Sekarang DKPP, Red.) kini tengah menggencarkan program pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak alternatif. Langkah ini diambil bukan sekadar untuk bertahan hidup di tengah kekeringan, melainkan sebagai strategi efisiensi bisnis peternakan yang revolusioner.
Dalam dunia peternakan, pakan merupakan variabel biaya paling mencekik. Sekretaris Dinas Peternakan Kabupaten Sumenep, Khaeru Ahmadi, mengungkapkan fakta yang mengejutkan bagi banyak pihak.
“Ada sekitar 70 persen komponen perawatan ternak habis pada pembiayaan pakan saja. Jika kita bisa mengelola pakan secara mandiri dan murah, maka keuntungan peternakan kita akan melonjak drastis,” tegas Khaeru.
Investigasi Pakan: Dari Limbah Menjadi Nutrisi Tinggi
Selama ini, sisa hasil panen seperti jerami padi, tebon jagung, hingga kulit kacang seringkali hanya dibakar atau dibuang. Padahal, melalui riset yang dikembangkan pemerintah daerah, limbah-limbah ini jika diolah dengan benar dapat mendukung produksi dan reproduksi hewan ternak secara optimal.
Namun, kendala utama limbah pertanian adalah teksturnya yang kasar dan kandungan protein yang rendah jika diberikan secara langsung. Menjawab tantangan ini, Dinas Peternakan tidak hanya membagikan program, tetapi juga melakukan pendampingan teknis:
-
Pelatihan Pengawetan (Silase & Fermentasi): Petani dilatih melakukan teknik fermentasi agar pakan limbah bisa disimpan berbulan-bulan tanpa busuk, sekaligus meningkatkan kadar serat dan proteinnya.
-
Integrasi Bibit Unggul: Selain limbah, pemerintah juga mendistribusikan bibit rumput gajah unggul untuk memastikan ketersediaan hijauan pakan yang berkualitas tinggi tetap terjaga.
Dampak Ekonomi bagi Peternak Sumenep
Mengapa program ini disebut investigatif-solutif? Karena selama ini kelangkaan pakan saat kemarau seringkali memaksa peternak menjual hewannya dengan harga murah karena tidak sanggup membeli pakan atau melihat ternaknya kurus.
Dengan pemanfaatan limbah yang diawetkan, peternak memiliki “cadangan logistik” yang kuat. “Pakan yang baik tidak hanya menggemukkan, tapi berpengaruh langsung pada siklus reproduksi hewan. Ini kunci keberlanjutan ternak di Sumenep,” tambah Khaeru.
Setiap tahunnya, Dinas Peternakan terus melakukan pengadaan penyebaran bibit pakan ternak unggul ke berbagai kelompok tani. Langkah ini diharapkan mampu memutus ketergantungan peternak pada pakan pabrikan yang harganya fluktuatif.
Catatan MaduraTani: Masa Depan Ternak Mandiri
Pemanfaatan limbah pertanian adalah langkah hilirisasi yang cerdas. Integrasi antara sektor pertanian dan peternakan (Circular Economy) di Sumenep akan menjadikan wilayah ini sebagai lumbung ternak yang paling efisien secara biaya di Jawa Timur. Kini, bola ada di tangan para kelompok tani untuk menyerap ilmu pengawetan pakan ini demi meraih keuntungan yang lebih besar.




.gif)


