DKPP Sumenep Sulap Lahan Marginal Hingga Tumpang Sari Padi-Siwalan

oleh -532 Dilihat

 


Maduratani.com – Kabupaten Sumenep kembali menorehkan terobosan di sektor agraria. Bukan sekadar tanam biasa, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep kini memperkenalkan pola Tumpang Sari Padi-Siwalan, sebuah inovasi pemanfaatan lahan marginal yang diprediksi akan menjadi game changer bagi ekonomi petani lokal.

Gerakan tanam perdana ini dipusatkan di Desa Nyabakan Barat, Kecamatan Batang-Batang. Dipimpin langsung oleh Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, aksi ini menggandeng elemen TNI-Polri serta kelompok tani setempat untuk membuktikan bahwa lahan gersang pun bisa menjadi lumbung pangan.

 




Strategi “Double Income” di Lahan Marginal

Inovasi ini lahir dari sebuah tantangan besar: Sumenep memiliki lebih dari 100 ribu hektare lahan marginal. Selama ini, lahan tersebut hanya dianggap sebagai area pendukung bagi pohon Siwalan, Mente, atau Kelapa.

KJF Penyuluh Pertanian DKPP Sumenep, Dewo Ringgih, menjelaskan bahwa pola tumpang sari ini memungkinkan petani memanen dua komoditas sekaligus dalam satu hamparan.

“Ini terobosan yang sebelumnya belum banyak dilakukan. Petani tidak hanya mendapatkan hasil dari siwalan atau kelapa, tetapi juga memperoleh panen padi di bawahnya. Jadi manfaatnya ganda (double income),” ungkap Dewo Ringgih.


 

Menjawab Instruksi Mentan: Tambah Luas Tanam (LBS)

Gerakan ini bukan sekadar eksperimen lokal, melainkan langkah konkret menjawab instruksi Menteri Pertanian terkait peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT). Sumenep kini fokus menggarap lahan di luar Luas Baku Sawah (LBS) untuk memperkuat swasembada pangan berkelanjutan.

“Instruksi Bapak Menteri jelas: optimalkan semua lahan yang memungkinkan. Selama ketersediaan air mencukupi, lahan marginal harus berubah menjadi lahan produktif,” tambah Dewo.

Sinergi Swasembada dan Hilirisasi 2026

Memasuki tahun 2026, arah kebijakan pertanian Sumenep bergerak di dua jalur cepat (double track). Sembari mengejar swasembada pangan lewat padi, DKPP juga menyiapkan fondasi Hilirisasi Perkebunan untuk komoditas unggulan seperti Kelapa dan Mente.

Pola Tumpang Sari Padi-Siwalan di Nyabakan Barat ini menjadi prototipe bagaimana sektor tanaman pangan dan sektor perkebunan bisa berjalan beriringan tanpa harus saling mengalahkan luasan lahan.

Melalui inovasi ini, DKPP Sumenep optimis ketahanan pangan daerah akan semakin tangguh, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih nyata bagi para petani di tanah Madura.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.