Petani Milenial, MBG Dan Peluang Pasar

oleh -163 Dilihat

 


Bicara tentang pemuda dan dunia pertanian, memang tidak banyak anak muda sekarang yang tertarik dengan dunia pertanian meskipun berpendidikan S1 fakultas pertanian, baik yang mempunyai lahan pribadi, apalagi yang tidak memiliki lahan sawah dan ladang sendiri.

Mungkin bagi mereka, bertani bukanlah profesi atau pekerjaan yang menjanjikan kecukupan hidup, apalagi kemewahan. Selain menguras tenaga dan berat saat mencangkul mengolah tanah, belum lagi proses menanam, merawat sampai panen rata-rata harus menunggu sampai 3 bulan, baru bisa dinikmati hasilnya.

 




Pandangan tentang beratnya bertani seperti ini, dibiarkan berkembang begitu saja ditengah-tengah masyarakat luas, baik dilingkungan masyarakat pedesaan maupun perkotaan. Padahal dunia pertanian bagi mereka yang mampu menangkap peluang usaha, didalamnya ada harapan hidup yang menjanjikan khususnya yang tinggal dipedesaan seperti yang dilakukan oleh M. Mahdi (38) salah satu petani milenial, adik kita yang tinggal desa Jaddung kecamatan Pragaan Sumenep.

Selama ini, sejak kecil dia selalu membantu orang tuanya menanam sayur-sayuran (tanaman horti) dilahannya yang tidak begitu luas dengan sistem tumpang sari. Hasil panennya dijual sendiri ke pedagang sayuran, cukup menghubungi tanpa harus mengantarkan barangnya.

Kini, sejak adanya program MBG yang diwajibkan pemerintah pusat terdapat dapur yang tersebar disetiap kecamatan. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, setiap dapurnya pasti membutuhkan bahan baku dari hasil tani. Tentunya masing-masing dapur tersebut membutuhkan sayur mayur sebagai pelengkap menu MBG.


 

Dari sinilah, baginya peluang usaha budidaya tanaman hortikultura baik kacang panjang, timun, buncis dan terong sangatlah dibutuhkan pasar. Bahkan stok sayuran tanamannya yang dipetik langsung ditegalnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG setiap harinya. Dia pun berencana akan menyewa tanah tegal sawah untuk ditanami sayuran dan mengajak kaum muda yang tergabung dalam petani milenial dan kelompok tani membangun kerja sama dengan pihak pengelola MBG dikabupaten Sumenep.

Sumenep, 27 Januari 2026
Raden Mas Demang


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.