Menakar Moralitas Aparat di Masjid Walisongo

oleh -270 Dilihat

 


SUMENEP, MaduraTani.com – Langkah presisi tak hanya diukur dari ketajaman penegakan hukum di lapangan, tetapi juga dari kebeningan nurani para pengawalnya. Pada Kamis (23/7/2026), suasana khusyuk menyelimuti Masjid Walisongo Polresta Sumenep. Kapolresta Sumenep Kombes Pol. Ariek Indra Sentanu bersama jajaran Pejabat Utama (PJU), personel, hingga ASN Polri menanggalkan sejenak rutinitas dinas untuk mengikuti Pembinaan Rohani dan Mental (Binrohtal).

Di hadapan para personel, AKBP (Purn.) Mustofa selaku penceramah menegaskan pentingnya menjadikan keimanan sebagai kompas moral. Nilai kejujuran, amanah, dan keikhlasan bukan sekadar dogma keagamaan, melainkan fondasi utama dalam menghadirkan pelayanan publik yang berkeadilan.

 




Pembinaan Mental sebagai Instrumentasi Pelayanan Publik

Secara teoretis, langkah Polresta Sumenep sejalan dengan Public Service Motivation (PSM) Theory yang dikembangkan oleh James L. Perry dan Wise (1990). Teori ini menggarisbawahi bahwa efektivitas organisasi publik sangat bergantung pada dorongan altruistik dan nilai-nilai etik internal pegawainya. Pembinaan rohani bertindak sebagai sarana paternalistic governance untuk meminimalisasi potensi penyalahgunaan wewenang (abuse of power) serta mengukuhkan akuntabilitas moral.

Kapolresta Sumenep, Kombes Pol. Ariek Indra Sentanu, menegaskan bahwa Binrohtal merupakan agenda strategis yang berkesinambungan untuk menjaga komitmen pelayanan kepada masyarakat.


 

“Melalui kegiatan pembinaan rohani dan mental ini, diharapkan seluruh personel semakin meningkatkan kualitas iman dan takwa, memiliki integritas yang tinggi, serta mampu memberikan pelayanan, perlindungan, dan pengayoman kepada masyarakat dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab,” ujar Ariek.

Menjaga Kondusivitas Wilayah Hukum dan Ketahanan Sosial

Bagi wilayah hukum Sumenep yang berbasis agraris dan maritim, stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) adalah syarat mutlak keberlangsungan aktivitas ekonomi warga. Aparat kepolisian yang memiliki integritas dan empati tinggi menjadi faktor kunci dalam mengayomi masyarakat, termasuk menjaga iklim yang kondusif bagi para petani dan nelayan di pelosok desa.

Melalui spiritualitas yang kuat, personel Polri diharapkan tidak hanya menjadi penegak hukum yang kaku, melainkan hadir sebagai pelindung yang adil dan humanistis. Rangkaian kegiatan Binrohtal ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan, keharmonisan, serta kelancaran tugas kepolisian dalam menciptakan situasi wilayah yang aman dan kondusif. (hms/fer)

Editor: Ferry Arbania


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.