Bahasa Madura Enggan Punah: Bupati Fauzi Sabet Penghargaan Nasional di Jakarta

oleh -220 Dilihat
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menerima penghargaan nasional untuk kelestarian Bahasa Madura dari Kemendikdasmen.
PRESTASI NASIONAL: Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo memegang trofi Penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) pada puncak acara FTBIN 2026 di Depok, Senin (25/05/2026). Apresiasi ini mempertegas komitmen daerah dalam merawat kekayaan kultural bahasa ibu. (Foto: Dok. Media Center/MaduraTani.com)

 


MADURATANI.COM – Komitmen dalam merawat denyut nadi kebudayaan dan bahasa ibu di ujung timur Pulau Madura mendapat pengakuan tertinggi di level nasional. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menganugerahkan Penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) kepada Kabupaten Sumenep atas dedikasi tanpa henti dalam melestarikan Bahasa Madura sebagai bagian dari identitas, budaya, dan kekayaan bangsa.

Apresiasi prestisius tersebut diterima langsung oleh Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, pada puncak Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026 di Gedung Garuda, Pusat Pelatihan SDM Kemendikdasmen, Depok, Senin (25/05/2026).

 




Jangkar Kultural dan Kebijakan Berbasis Kearifan Lokal

Dalam perspektif sosiologi pedesaan dan administrasi publik, bahasa daerah bukan sekadar alat transaksional komunikasi, melainkan instrumen vital dalam mentransfer nilai-nilai kearifan lokal, termasuk sistem gotong royong dan tradisi pertanian kuno yang masif di tengah masyarakat tani.

Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo menegaskan bahwa keberlangsungan bahasa daerah harus dijaga lewat kebijakan yang konkret dan terstruktur agar tidak tergerus oleh laju zaman.

“Bahasa daerah merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai sejarah, kearifan lokal, dan jati diri masyarakat yang harus terjaga keberlangsungannya sampai kapanpun,” ujar sosok yang akrab disapa Cak Fauzi tersebut kepada Media Center seusai menerima penghargaan.


 

Langkah konkret Pemkab Sumenep dalam merawat bahasa ibu diwujudkan melalui penguatan kurikulum muatan lokal di lembaga pendidikan, festival budaya, hingga lomba pidato dan mendongeng yang melibatkan komunitas budaya dari tingkat tapak.

Menepis Amesia Budaya di Era Globalisasi

Tantangan merawat bahasa daerah di era disrupsi digital memang tidak mudah. Penetrasi informasi global menuntut adanya kolaborasi multisektoral agar generasi muda tidak mengalami cultural amnesia atau asing terhadap bahasa ibunya sendiri.

Bupati Fauzi berharap, penghargaan dari pusat ini mampu mengonversi semangat baru bagi seluruh elemen masyarakat, khususnya di kalangan pemuda pedesaan, untuk bangga menggunakan dan mengembangkan bahasa daerah dalam aktivitas harian.

“Yang jelas, menjaga dan merawat bahasa daerah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat agar tetap lestari di zaman apapun,” pungkasnya.

Dengan raihan penghargaan ini, Kabupaten Sumenep membuktikan bahwa akselerasi pembangunan daerah tidak harus menumbalkan identitas budaya asli, melainkan berjalan beriringan demi ketahanan sosial yang berkelanjutan. (yas/fer)


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.