Strategi 2026: DKPP Sumenep Sulap Lahan Tidur Jadi Sawah dan Kembangkan Pusat Cabai Jamu

oleh -467 Dilihat
H. Chainur Rasyid Kepala DKPP Kabupaten Sumenep Madua Jawa Timur. [Foto: dok. Istimewa]

 


SUMENEP – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep resmi menetapkan arah kebijakan strategis untuk tahun anggaran 2026. Fokus utama tahun ini adalah percepatan swasembada pangan melalui optimalisasi lahan tidur serta memperkuat dominasi hortikultura melalui kawasan cabai jamu terintegrasi.

Langkah ini diambil untuk merespons kebutuhan pangan yang kian meningkat sekaligus memaksimalkan potensi lahan di wilayah “Kota Keris” yang selama ini belum tergarap maksimal.

 




Swasembada Pangan: Padi Jadi Prioritas di Lahan Bekas Mente

Salah satu terobosan paling mencolok di tahun 2026 adalah gerakan masif pemanfaatan lahan tidak produktif. DKPP Sumenep, melalui koordinasi intensif penyuluh pertanian di lapangan, akan menyisir lahan-lahan tidur, termasuk bekas lahan mente yang sudah tidak produktif, untuk dialihfungsikan menjadi lahan sawah.

“Kami berfokus memanfaatkan lahan tidak produktif guna meningkatkan luas baku sawah dan indeks pertanaman (IP). Target kami jelas, perwujudan swasembada pangan berkelanjutan di Sumenep harus berbasis pada optimalisasi sumber daya yang ada,” tulis rincian program kerja DKPP Sumenep.

Kawasan Cabai Jamu Terintegrasi di Bluto dan Lobuk

Selain pangan pokok, sektor hortikultura mendapat perhatian serius. DKPP Sumenep menargetkan pembentukan kawasan budi daya Cabai Jamu secara intensif dan monokultur. Program ini merupakan kelanjutan dari konsep Smart Farming Hortikultura.


 

Wilayah seperti Bluto dan Lobuk akan menjadi sentra utama pengembangan komoditas ini. Dengan sistem budi daya yang terintegrasi, petani diharapkan mampu menghasilkan kualitas ekspor yang konsisten, mengingat cabai jamu adalah komoditas unggulan Sumenep yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Keputusan Berbasis Data (Data-Driven Policy)

Untuk memastikan program tidak berjalan secara parsial atau salah sasaran, DKPP Sumenep melakukan pendekatan berbasis data yang komprehensif. Pendataan menyeluruh dilakukan mencakup:

  • Identifikasi Kepemilikan: Memastikan kejelasan status lahan yang akan dioptimalkan.

  • Pemetaan Luasan: Mengukur potensi output produksi secara akurat.

  • Penguatan Kelembagaan: Memperkuat kelompok tani agar mandiri dalam manajemen pascapanen.

“Pengembangan komoditas potensial harus terarah dan terukur. Dengan data yang akurat, inovasi budi daya yang kami suntikkan akan langsung berdampak pada peningkatan pendapatan petani,” tambah keterangan resmi tersebut.

Melalui sinergi antara teknologi smart farming dan optimalisasi lahan, Kabupaten Sumenep optimis dapat memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat tani di tahun 2026.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.