Paradoks “Lumbung Emas” Madura: Ansari DPR RI Bongkar Tabir Sistem yang Membelenggu Petani

oleh -573 Dilihat
Hj.Ansari (kiri) Anggota DPR-RI asal Madura bersama petani Pamekasan, Madura, Jawa Timur. [dok.Istimewa]

 


PAMEKASAN – Madura bukan sekadar pulau garam. Dengan hamparan lahan pertanian yang mencapai ratusan ribu hektare, pulau ini adalah raksasa pangan yang sedang “tertidur” akibat jeratan sistem yang tidak memihak.

Anggota DPR RI asal Dapil Jawa Timur XI (Madura), Ansari, melemparkan kritik tajam terhadap ekosistem pertanian di tanah kelahirannya. Menurut politisi PDI Perjuangan ini, kesejahteraan petani Madura bukan terhambat oleh etos kerja, melainkan oleh sistem yang justru sering kali “memangsa” pelakunya sendiri.

 




Anatomi Masalah: Bukan Sekadar Pupuk Langka

Dalam dialog langsung dengan para petani di Pamekasan, Ansari menyerap kegelisahan yang lebih dalam dari sekadar kelangkaan pupuk subsidi.

“Petani adalah pahlawan pangan nasional, tapi kesejahteraan mereka masih menjadi anomali. Sebagai anak desa, saya melihat langsung bagaimana mereka berhadapan dengan tembok akses permodalan yang sulit, keterbatasan teknologi, hingga dominasi pasar yang tidak adil,” ujar Ansari.

Ia mengutip pemikiran filosofis Bung Karno tentang konsep Marhaenisme: bahwa petani memiliki alat produksi sendiri (lahan), namun tetap miskin karena sistem ekonomi yang meminggirkan.


 


Raksasa yang Tertidur: Data Luas Lahan Pertanian Madura

Berdasarkan data yang dihimpun Ansari, potensi agraris Madura secara kumulatif sangat fantastis, namun ironisnya masih dihantui isu deagrarianisasi (perpindahan profesi petani ke sektor lain).

Kabupaten Luas Lahan Pertanian Komoditas Unggulan Karakteristik Lahan
Sumenep 131.308 Hektare Padi, Jagung, Tembakau, Garam Dominasi Lahan Kering
Pamekasan 64.919 Hektare Tembakau (22.917 Ha), Padi, Porang 82% Luas Wilayah adalah Tani
Bangkalan 92.158 Hektare Padi, Jagung, Hortikultura Mayoritas Sawah Tadah Hujan
Sampang 92% Total Wilayah Jagung, Padi Optimalisasi 80 Ha Lahan Tidur

Total Potensi Madura:

  • Budidaya Padi: 209.769 Hektare.

  • Budidaya Jagung: 300.000 Hektare.


Tantangan Ekstrem: Antara Kekeringan dan Alih Fungsi Lahan

Meski lahan membentang luas, Ansari mencatat beberapa kendala sistemik yang harus segera diintervensi oleh Pemerintah Pusat melalui Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI:

  1. Krisis Air & Irigasi: Di Bangkalan saja, dari 29.540 hektare sawah, sebanyak 21.491 hektare adalah tadah hujan. Tanpa pompanisasi masif, petani hanya bisa pasrah pada cuaca.

  2. Alih Fungsi Lahan: Tekanan pembangunan sering kali menggerus lahan produktif.

  3. Akses Pasar: Rantai distribusi yang panjang menyebabkan harga di tingkat petani anjlok, sementara di konsumen melonjak.

Komitmen Politik di Hari Tani Nasional

Menjelang Hari Tani Nasional, Ansari menegaskan bahwa pihaknya akan membawa “suara dari bawah” ini ke meja hijau Senayan. Targetnya jelas: Pemerintah harus memberikan perhatian serius pada peningkatan kapasitas bercocok tanam dan jaminan harga hasil panen.

“Kesejahteraan petani adalah harga mati bagi ketahanan pangan bangsa. Kami tidak ingin lahan tidur di Sampang atau sawah tadah hujan di Bangkalan hanya menjadi angka statistik tanpa dampak pada kantong para petani,” tegasnya.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.