Maduratani.com – Di balik hamparan putih tambak garam yang membentang di pesisir Sumenep, terdapat sebuah ritual sakral yang telah terjaga selama lebih dari lima abad. Nyadhar (atau Nyadar), sebuah upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat petani garam di Desa Pinggirpapas dan sekitarnya, bukan sekadar perayaan syukur, melainkan jembatan spiritual yang menghubungkan mereka dengan sang leluhur: Syekh Anggasuto.
Bagi masyarakat agraris dan pesisir di Madura, Nyadhar adalah napas kehidupan yang memastikan harmoni antara kerja keras manusia dan keberkahan alam.
Asal-Usul: Penghormatan untuk Sang Maestro Garam
Ritual ini berakar pada penghormatan terhadap Syekh Anggasuto, tokoh yang diyakini masyarakat sebagai penemu teknik pembuatan garam pertama kali di Madura pada abad ke-15. Konon, melalui karomahnya, ia mampu mengkristalkan air laut menjadi butiran “emas putih” yang kini menghidupi ribuan jiwa.
Tradisi Nyadhar dilakukan sebanyak tiga kali dalam setahun, biasanya mengikuti siklus panen garam. Puncak acara dilaksanakan di sekitar makam (Asta) Syekh Anggasuto dan para pengikutnya di Desa Kebundadap Timur.
Prosesi Ritual: Dari Doa hingga Makan Bersama
Nyadhar memiliki tahapan unik yang sarat akan makna simbolis:
1. Ziarah dan Pembacaan Doa (Tahlil) Masyarakat berkumpul di area pemakaman leluhur. Dengan penuh khusyuk, mereka melantunkan doa dan ayat suci sebagai bentuk tawasul dan terima kasih atas ilmu serta rezeki yang telah diwariskan.
2. Perjamuan Nasi Panjang Salah satu ciri khas Nyadhar adalah penyajian makanan dalam piring panjang atau wadah khusus yang dibawa dari rumah masing-masing. Menu wajib yang biasanya hadir adalah nasi putih, lauk pauk tradisional, dan telur.
3. Filosofi Kebersamaan Saat makan bersama dimulai, tidak ada sekat antara kaya dan miskin. Semua duduk bersila di atas tikar, menyantap berkah yang sama. Ini melambangkan bahwa garam yang dihasilkan adalah milik bersama dan kesejahteraan harus dirasakan secara kolektif.
Makna di Balik Setiap Butir Kristal
Mengapa Nyadhar begitu penting bagi petani garam di Sumenep?
-
Keseimbangan Alam: Petani percaya jika ritual ini ditinggalkan, produksi garam bisa terganggu, baik karena faktor cuaca (hujan di musim kemarau) maupun teknis.
-
Identitas Budaya: Nyadhar menjadi pengingat bahwa mereka adalah keturunan para pejuang ekonomi yang mandiri sejak zaman prakolonial.
-
Ekonomi Kerakyatan: Selain nilai spiritual, acara ini menjadi ajang silaturahmi besar yang memperkuat jaringan solidaritas antar petani garam.
Daya Tarik Wisata Budaya

Saat ini, Nyadhar bukan hanya milik warga Pinggirpapas. Upacara ini telah menjadi agenda wisata budaya unggulan di Kabupaten Sumenep. Wisatawan lokal maupun mancanegara seringkali hadir untuk menyaksikan langsung keunikan akulturasi nilai Islam dan tradisi lokal Madura yang sangat kental.
Pemerintah Kabupaten Sumenep terus mendorong pelestarian Nyadhar sebagai bagian dari Warisan Budaya Tak Benda yang harus dijaga dari gerusan zaman modern.***




.gif)



