Menelusuri Jejak Emas Putih Sumenep: Dari Syekh Anggasuto Hingga Kejayaan Industri Garam Kalianget

oleh -155 Dilihat
Pemandangan tambak garam tradisional di Sumenep dengan kincir angin kayu dan tumpukan garam kristal.
Melawan terik matahari, petani garam Sumenep berjbaku dengan pekerjaannya yang tidak mudah/Ist.

 


Maduratani.com – Kabupaten Sumenep bukan sekadar wilayah di ujung timur Pulau Madura; ia adalah jantung dari sejarah panjang “Emas Putih” Indonesia. Jauh sebelum teknologi modern menyentuh pesisir, kristalisasi garam telah menjadi napas kehidupan bagi masyarakat Kalianget dan Pinggirpapas selama berabad-abad.

Perjalanan garam di Sumenep adalah kisah tentang spiritualitas, kolonialisme, perlawanan, hingga ketangguhan tradisi yang tak lekang oleh zaman.

 




Abad ke-15: Warisan Spiritual Syekh Anggasuto

Sejarah garam di Madura tak bisa dilepaskan dari sosok Syekh Anggasuto (Pangeran Anggasuto). Pada akhir abad ke-15, sang pendakwah ini mengajarkan masyarakat Desa Pinggirpapas teknik mengolah air laut menjadi butiran kristal garam.

Bagi warga setempat, garam bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan warisan leluhur yang suci. Inilah yang melahirkan tradisi Nyadhar (Nyadar). Tradisi religi ini terus dilestarikan hingga kini sebagai wujud syukur dan penghormatan kepada Syekh Anggasuto, sekaligus ritual permohonan berkah agar hasil panen melimpah.

Era Kolonial: Kalianget Jadi Pusat Industri Modern Pertama

Memasuki abad ke-19, potensi besar garam Sumenep mulai dilirik oleh pemerintah kolonial Belanda (VOC). Melihat keuntungan yang menggiurkan, Belanda menerapkan sistem monopoli garam yang ketat. Rakyat yang semula pemilik lahan, dipaksa menjadi buruh di tanah mereka sendiri.


 

Puncaknya terjadi pada tahun 1899, saat Belanda membangun pabrik garam briket pertama di Indonesia yang berlokasi di Kalianget. Kalianget pun bertransformasi menjadi kota industri modern pertama di Madura dengan infrastruktur lengkap pada zamannya. Namun, kemajuan ini menyisakan luka; sistem monopoli menyebabkan penderitaan bagi petani lokal yang hak-haknya dirampas oleh pemerintah kolonial.


Perlawanan Rakyat dan Pasang Surut Monopoli

Rakyat Sumenep tidak tinggal diam. Perlawanan terhadap sistem monopoli pecah berkali-kali, terutama saat pemerintah kolonial secara paksa mengambil alih tambak-tambak rakyat pada periode 1934-1936.

Pasca-kemerdekaan RI, sistem monopoli yang menyesakkan tersebut sempat dihapus pada tahun 1957. Namun, dinamika ekonomi politik membawa sistem pengelolaan garam kembali ke tangan negara melalui pembentukan BUMN (PT Garam) pada era Orde Baru, yang hingga kini pusatnya masih kokoh berdiri di Kalianget.

Wajah Garam Sumenep Hari Ini

Hingga detik ini, Sumenep tetap tegak sebagai produsen garam terbesar di Madura. Pemandangan kincir angin kayu yang berputar menarik air laut dan hamparan putih di bawah terik matahari tetap menjadi identitas visual yang ikonik di wilayah Kalianget dan sekitarnya.

Meski teknologi mulai berkembang, metode tradisional warisan Syekh Anggasuto masih menjadi pilar utama. Bagi petani garam Sumenep, setiap butir kristal yang mereka hasilkan adalah perpaduan antara kerja keras, sejarah panjang, dan doa yang tak putus kepada Sang Pencipta.

Baca Juga:

Menyelami Ritual Nyadhar Sumenep: Manifestasi Syukur dan Jejak Mistis Sang Penemu Garam Madura


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.