Maduratani.com – Memasuki periode kedua kepemimpinannya (2025-2030), Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo membawa visi besar bertajuk “Sumenep Unggul, Mandiri, dan Sejahtera”. Namun, di balik jargon tersebut, terdapat arsitektur kebijakan ekonomi yang sangat spesifik, yakni fokus pada penguatan sektor pertanian, peternakan, dan perlindungan pelaku usaha kecil.
Bupati yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Sumenep ini, tampak ingin menjadikan Sumenep sebagai episenter ketahanan pangan di Jawa Timur melalui pendekatan yang lebih modern dan manusiawi.
Revolusi Pertanian di Tangan Petani Milenial
Bagi Fauzi, sektor pertanian dan peternakan bukan sekadar warisan tradisi, melainkan tulang punggung ekonomi masa depan. Menyadari adanya ancaman regenerasi petani, ia secara agresif mendorong keterlibatan Petani Milenial.
Kebijakan Fauzi diarahkan untuk memberikan ruang kreasi bagi anak muda agar menyentuh teknologi pertanian. Tujuannya jelas: meningkatkan produktivitas lahan melalui optimalisasi produk unggulan daerah. “Petani milenial harus menjadi motor penggerak. Inovasi mereka adalah kunci agar Sumenep tidak hanya mandiri pangan, tapi menjadi penyangga pangan nasional,” tegasnya dalam berbagai kesempatan.
Implementasi “Jarak Aman” bagi UMKM: Belajar dari Pengalaman Pribadi
Salah satu poin unik dalam kepemimpinan Fauzi adalah keberpihakannya yang ekstrem pada pedagang kecil. Berangkat dari latar belakangnya sebagai mantan pelaku UMKM, ia memahami betul pahit getirnya persaingan usaha di tingkat bawah.
Fauzi memperkenalkan inisiatif penataan jarak antar pedagang—sebuah konsep yang mirip dengan inisiatif TKM Klaten—untuk menghindari kanibalisme pasar atau persaingan tidak sehat. Langkah ini bertujuan untuk memastikan setiap pedagang kecil memiliki “ruang napas” yang cukup untuk berkembang tanpa tergilas oleh modal besar atau kepadatan lokasi yang tidak teratur.
Visi 2025-2030: Menuju Kemandirian Fiskal Desa
Visi “Sumenep Unggul” yang diusung bukan sekadar mimpi di atas kertas. Melalui sinkronisasi sektor hulu (pertanian/peternakan) dan sektor hilir (UMKM/Perdagangan), Fauzi menargetkan percepatan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Politikus PDI Perjuangan ini percaya bahwa kemandirian daerah dimulai dari keberhasilan petani di sawah dan keberlangsungan pedagang di pasar tradisional. Strategi yang kini disebut-sebut sebagai “Fauzi-Nomics” ini diharapkan mampu menurunkan angka kemiskinan secara signifikan dan menjadikan Sumenep sebagai daerah mandiri secara fiskal melalui potensi lokalnya yang luar biasa.




.gif)






