Biasakan Menyebut “Pengusaha Tani”
“Anak muda, apakah kamu ingin menjadi petani?” Mereka menggelengkan kepala dengan pasti, yang berarti “tidak”.
“Orang tua, apakah kamu ingin anakmu menjadi petani?” Mereka pun menjawab “tidak”.
Hal tersebut menunjukkan rasa ketidakpercayaan terhadap masa depan seorang petani. Dalam kurun waktu yang lama, sektor pertanian dipandang sebagai pekerjaan yang berat, berpenghasilan rendah, dan tidak keren.
Akibatnya, upaya apa pun yang dilakukan untuk menarik minat anak muda bekerja di sektor pertanian selalu mengalami “jalan buntu”. Padahal, dengan konsep smart farming yang berkelanjutan, sektor ini dipromosikan mampu memberikan penghasilan Rp10 juta hingga Rp20 juta per bulan.
Mereka, para anak muda, tidak berani melangkah dan bertindak. Mereka terkunci oleh sugesti diri terhadap kehidupan kelam seorang petani yang lekat dengan keterpurukan nasib. Meskipun demikian, adakalanya timbul kesadaran bahwa tidak sedikit orang yang sukses dengan bertani.
Secara alamiah, sektor ini memang menjanjikan. Bayangkan, dari sebutir benih mampu berproduksi berkali-kali lipat, belum lagi hasil sampingannya. Akan tetapi, kehidupan petani masih tidak baik-baik saja. Tentu ada permasalahan yang menjadikannya demikian, dan yang utama adalah manajemen usaha tani.
Petani tidak memiliki cukup bekal dan kemampuan dalam mengelola pertaniannya. Kegiatan pertanian masih belum dipandang dan diperlakukan sebagai suatu usaha atau entitas bisnis.
Untuk itu, mari membiasakan diri untuk menyebut petani sebagai seorang “Pengusaha Tani”. Tujuannya agar anak muda bisa membayangkan kehidupan seorang pengusaha, sehingga mereka berani bermimpi dan mewujudkan diri menjadi seorang pengusaha tani yang sukses. [*]




.gif)






